Anak PMII Share Felix Siauw, Dia Maksiat Kebangsaan
Cari Judul Esai

Advertisement

Anak PMII Share Felix Siauw, Dia Maksiat Kebangsaan

M Abdullah Badri
Senin, 17 Juni 2019

kader pmii tidak boleh posting tulisan felix siauw
Dalam sesi materi Peta Idelogi Politik Islam di PKD PMII Komisariat Sultan Hadlirin Unisnu, Jepara (Ahad, 16/06/2019), muncul pertanyaan bagaimana bila ada kader PMII sering share postingan Felix Siauw?

Oleh M Abdullah Badri

DALAM sesi tanyajawab yang dilontarkan peserta PKD PMII Komisariat Unisnu Jepara pada Ahad siang, 16 Juni 2019, muncul pertanyaan tentang adanya kader NU yang sering share postingan dari Ustadz khilafah Felix Siauw. Bagaimana agar kader NU tidak ikut-ikutan kanginan nge-share postingan Felix Siauw?

Jawabannya:
Harus melek literasi nasionalisme. Selama ini Felix Siauw tidak diragukan lagi sebagai sosok yang dengan tanpa tedeng aling-aling, dari dulu sampai sekarang, selalu mengampanyekan khilafah dengan alasan bahwa nasionalisme, menurutnya, tidak ada dalil.

Baca: Felix Sangat Nasionalis?

Ini yang harus diketahui oleh kader-kader NU dimanapun berada. Jangan hanya postingan seorang ustadz menarik, berbicara akhlak melulu, kita ikutan langsung mendukungnya dengan share tulisan atau broadcast darinya.

Kalau sampai hal itu terjadi, berarti sedang ada aksi ta'awun alal ma'siyat (menolong kemasiatan). Felix maksiat karena dia menyebarkan idelogi perpecahan bernama khilafah, yang sejak dari dalil naqli-nya saja bermasalah, apalagi praktiknya. Kok bisa? Ya bisa.

Bagi Felix, nasionalime itu memecah belah. Tapi di Indonesia, bagi kader Nahdlatul Ulama (NU), nasionalisme justru mempersatukan. Mengapa? Lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bermula dari konsep nasionalisme (paham nation-state) yang dimulai dari upaya Ir. Soekarno menyatukan ratusan kerajaan-kerajaan di Nusantara untuk bergabung dalam negara kesatuan bernama Indonesia.

Dari peleburan kerajaan-kerajaan itulah, perasaan sanasib sebagai yang sama-sama pernah dijajah oleh Belanda, Portugis, Inggris dan lainnya, menyatu dalam setiap warga negara Indonesia. Inilah yang kemudian, oleh Ben Anderson, disebut sebagai imagine community (komunitas terbayang).

Dalam nation-state, penduduk Jakarta mungkin tidak mengenal warga Medan. Tapi, karena diikat dalam komunitas nasional bernama Indonesia, ketika bertemu di luar negeri misalnya, mereka akan mengaku sebagai saling bersaudara, meski warna kulit, bahasa serta ras nya berbeda.

Baca: Meluruskan 3 Cara Berpikir yang Keliru tentang Dakwah Gerakan NU

Di sini, nasionalisme dalam koteks Indonesia bukan memecah belah, tapi justru menyatukan, dalam ikatan kemanusiaan yang disebut Ben Anderson sebagai imagine community.

"Bila kalian paham tentang literasi nasionalisme yang sangat bersebarangan dengan pendapat Felix Siauw, kalian tidak akan share apapun yang terkait dengan khilafah dan Felix, meski tulisannya kalian anggap menyihir. Karena hal itu bagian dari maksiat," kata saya.

Selain Felix Siauw, salah satu peserta PKD saat itu juga menanyakan hal yang hampir sama ihwal Ustadz Hanan At-Taki, yang menurutnya menarik karena bicara Islam tanpa tendensi ideologi tertentu.

Lagi-lagi, di sini, mereka harus melek literasi kembali soal ideologi. Karena keterbatasan waktu, soal Hanan At-Taki ini tidak sempat terjawab. Lain kali saya ulas di blog ini. [badriologi.com]

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah