Ditanya Siapa Allah, Jawaban Gus Baha' Bikin Orang Atheis Tak Berkutik
Cari Judul Esai

Advertisement

Ditanya Siapa Allah, Jawaban Gus Baha' Bikin Orang Atheis Tak Berkutik

M Abdullah Badri
Kamis, 27 Juni 2019

pertanyaan tentang allah dimana dan seperti apa
Foto KH. Ahmad Baha'uddin Nursalim, Narukan, Rembang, Jawa Tengah.

Oleh M Abdullah Badri

DALAM sebuah pengajian rutin yang biasa digelar, Gus Baha' menceritakan pertemuannya dengan seorang atheis yang tidak percaya kepada Allah Swt. karena ia tidak menemukan siapa Tuhan sebenarnya secara akal.

Baca: Rutinan Ngaji Gus Baha' dan Sejarah Pengasuh Pesantren Mazro'atul Ulum Damaran 78 Kudus

Dialog Gus Baha' bersama seorang atheis itu terjadi seperti ini.

Atheis: Bila Allah ada, mengapa saya harus meyakininya?

Gus Baha': Kamu percaya sebab akibat atau percaya langsung adanya wujud dunia ini tanpa sebab?

Atheis: Saya tentu percaya yang ada sebab akibatnya, Gus. Mana ada eksistensi dunia ini yang tidak berawal dari adanya sebab.

Gus Baha': Nah, sebab utama atas akibat itulah yang dinamakan Allah. Dalam ilmu Tauhid, Allah adalah musabbibus sabab (yang menyebabkan sebab), kausa prima atau wajibul wujud (yang wajib adanya).

Atheis: Kenapa saya tidak pernah mendapatkan keterangan itu dari kiai-kiai lainnya.

Gus Baha': Lha kamu tidak tanya sama saya.

Sang Atheis itu akhirnya baru menyadari pencariannya atas keberadaan Tuhan. Mereka jelas tidak akan percaya dengan analogi-analogi logika yang hanya menjelaskan eksistensi Tuhan dimulai dari jawaban atas adanya alam raya ini sebagai bukti.

Baca: Jenazah Wali di Zaman Nabi Musa yang Disia-siakan Penduduk (Ngaji Ushfuriyah Bagian 4)

Penjelasan itu memang benar adanya demikian bila kita mengkaji ilmu kalam para mutakkallimin di kitab-kitab Tauhid karangan ulama' Sunni semacam Ummil Barahin, Aqidatul Awam dan lainnya. Namun, bila dilengkapi dengan dengan narasi Ilmu Mantiq (Logika silogisme) ala Aristototelian, para penganut Atheisme dan Nihilisme bisa menerimanya dengan akal mereka.

Tradisi Ilmu Mantiq inilah yang menurut Gus Baha' harus dikembangkan di kalangan santri dan dalam pengajaran pesantren dimanapun. Gus Baha' menyatakan, dalam Ilmu Mantiq, hampir tidak ada pembahasan tentang ketuhanan. Semua kitab-kitab Mantiq seperti Sulamul Munauraq (yang juga pernah penulis kaji di madrasah TBS) murni membahas logika.

Tapi, dengan bantuan ilmu logika tersebut, eksistensi Allah bisa dijelaskan kepada kalangan atheis yang hanya mempercayai logikanya sendiri, yang materialistik itu. Dialog Gus Baha' dengan menggunakan disiplin Ilmu Mantiq di atas terbukti membuat sang atheis pasrah tak berkutik dengan penjelasannya. Begitu. [badriologi.com]