Komunitas Muslim Pabrik di Jepara Batal Ngundang Adi Hidayat Karena Ribet Ngartis
Cari Judul Esai

Advertisement

Komunitas Muslim Pabrik di Jepara Batal Ngundang Adi Hidayat Karena Ribet Ngartis

M Abdullah Badri
Sabtu, 08 Juni 2019

cara mengundang ceramah adi hidayat
Cara mengundang ceramah Ust. Adi Hidayat itu ribetnya minta ampun hingga melewati jenjang manajemen laiknya artis papan atas ibu kota. Artinya, mengundang Adi Hidayat Anda harus lebih dulu menjadi bagian dari salafi wahabi yang memiliki jenis perkumpulan pasti, legalitas dan jamaah yang mapan. Kuat? 

Oleh M Abdullah Badri

SEBUAH pabrik yang juga ada komunitas muslim ngaji di mushallanya hendak mengundang ustadz beken di media bernama Adi Hidayat. Rencana ini sudah dicanangkan sejak akhir 2018 lalu, dan rencana kedatangannya adalah tahun 2020 mendatang.

Mendengar rencana tersebut, saya sudah wanti-wanti agar berhati-hati kepada salah satu anggota IPNU yang menjadi karyawan pabrik garmen di sana. Inisiasi mengundang ustadz Adi Hidayat dimulai dari salah seorang merbot mushalla pabrik yang dulunya suka menggelar acara manaqiban tapi sekarang membid'ahkannya.

Adi Hidayat diharapkan oleh dia agar tradisi beragama ala muslim desa seperti amaliyah NU, yang selama ini sudah berjalan di pabrik tersebut, bisa berkurang dan bahkan habis. Sebelumnya, acara rutinan membaca manaqib Syeikh Abdul Qadir Jailani juga berhasil "disingkirkan" meski tidak bisa seluruhnya.

Baca: Dari PKS Jadi Wahabi Lalu Membela Ponpes yang Alumninya Terlibat Terorisme

Jika Adi Hidayat berhasil datang, sang inisiator yang kesehariannya bercelana cingkrang itu merasa akan bisa menjadi pemuka yang dianggap sah dan berhak berbicara agama untuk kalangan karyawan muslim pabrik yang memang minim pemahaman agamanya.

Sayangnya, karena rencana kedatangan sang ustadz wahabi itu harus mendapatkan persetujuan dari serikat buruh, dia harus gigit jari. Alasannya sederhana, mendatangkan Adi Hidayat lebih ribet daripada mendatangkan artis. Dan pimpinan serikat tidak mau ambil risiko, apalagi menghabiskan budget besar nantinya.

Untuk menghadirkan Adi Hidayat hanya sekedar ceramah 1-2 jam, pengundang harus diverifikasi oleh tim manajemen, dimana salah satu syaratnya harus memiliki kejelasan status hukum, lengkap dengan logo serta jumlah jemaat patennya.

Anda yang hanya berkomunitas di jamaah arisan atau majelis taklim saja misalnya, jangan harap akan bisa mendatangkan Adi Hidayat meskipun duit Anda bejibun milyar. Sangat berkebalikan dengan tradisi santri ngundang pendakwah atau penceramah dari kalangan kiai NU, yang tinggal datang saja ker ndalemnya dan salim tanpa ribet.

Baca: Sowan Gus Muwafiq, Bule dari Basten Bingung Karena Ini

Artinya, mengundang Adi Hidayat itu harus melewati manajemen ribet yang ada urusannya dengan pajak, legalitas perkumpulan serta lain sebagainya. Beda dengan mengundang kiai NU. Anda tinggal sowan, tanpa daftar antri, akan diberi jadwal jika kiainya ada waktu luang, tanpa ribet manajemen seperti artis hiburan ibukota.

Mengapa? Karena kiai NU memang berdakwah untuk umat Muhammad Saw. Bukan hanya untuk umatnya sendiri, yang harus melewati seleksi 5W 1H pihak yang mengundang.

Gara-gara ribet, kelompok muslim pabrik di Jepara itu akhirnya mengalihkan rencana undangan ceramah Adi Hidayat dengan salah satu pembicara dari Kudus, yang meskipun beliaunya dikenal sebagai icon shalawat, tapi mudah ngundangnya. Yassiru wala tu'asshiru! [badriologi.com]

Keterangan:
Esai ini adalah catatan penulis dari aktivis PAC IPNU di salah satu kecamatan di Jepara yang Halal Bihalal ke rumah pada Sabtu dini hari, 8 Juni 2019.