Ojo Lali Tauhid-e: Pesan KH. Ma’mun Ahmad Kudus Kepada Para Santri
Cari Judul Esai

Advertisement

Ojo Lali Tauhid-e: Pesan KH. Ma’mun Ahmad Kudus Kepada Para Santri

M Abdullah Badri
Selasa, 16 Juli 2019

foto gus dur dan kiai makmun ahmad kudus tbs
Foto KH. Ma'mun Ahmad (sorban putih) pada saat Gus Dur sowan ke Kudus tahun 1999. Sumber: Buku Dalil Sejarah TBS.

Oleh M Abdullah Badri

OJO LALI TAUHIDÉ (Jangan lupakan tauhid). Begitu pesan yang selalu disampaikan oleh KH. Ma’mun Ahmad (Mbah Ma’mun), Baletengahan, Kudus, kepada tiap alumni yang sowan. Karena itulah, banyak orang mengenal Mbah Ma’mun sebagai ulama tauhid yang juga pengamal tasawwuf (dzî shûfit tauhîdi akhdzan sajadâ).

Mbah Ma’mun bukan hanya ahli di kedua bidang ilmu tersebut, tapi keduanya sudah menjadi tabi’at dan habitus keseharian. Susah, senang, sakit maupun sehat, ucapan “alhamdulillâh” selalu meluncur dari hati, bibir dan laku beliau.

Husnudzan kepada sesama makhluk Allah perlu ditiru oleh generasi sekarang di tengah maraknya ujaran kebencian yang makin tak terbendung saja. Kepada Allah Swt. banyak yang tidak berbaik sangka, bagaimana kepada makluk-nya, yang wujudnya saja tidak hakiki.

Baca: Wirid dan Tirakat Kiai Mahmudi Besito Kudus Saat Babad Tanah MTs TBS

Tauhid mengajarkan kepada kita bahwa wâjibul wujûd (yang wajib eksistensinya ada) hanyalah Allah. Wujud kita sebagai makhluk tidak bersifat wajib, yang artinya masih mengandung kemungkinan ‘adam (tidak ada/tidak esksis), yakni ketika makhluk sudah mati, hilang nyawa dan rusak semua organnya. Allah Swt. tidak bersifat demikian.

Ada banyak “tuhan-tuhan” amatir yang disembah oleh manusia, tapi secara Tauhid, yang wujudnya hakiki dan hanya berhak disembah adalah Allah semata. Lain itu, musyrik bila dijadikan tujuan tunduk dan berpasrah diri lahir-batin.

Karena itulah, husnudzan kepada Allah Swt. merupakan hal yang wajib. Demikian pula menyukuri segala nikmat yang telah diberikan oleh-Nya, mulai nikmat kita diwujudkan jadi makluk (dari tidak ada menjadi ada – ni’matul îjâd), nikmat kesehatan (ni’matus shihhah), dan utamanya, nikmat diberikan iman oleh Allah Swt. tanpa kita minta (ni’matul îmân).

Ketika mengajar Bad’ul Amâlî (Kitab Tauhid) kepada penulis, Mbah Ma’mun juga sering menguji keimanan para santrinya dengan sebuah pertanyaan unik, “berapa jumlah putranya Allah?”, bukan bertanya, “apakah Allah memiliki keturunan atau tidak”. Pertanyaan pertama jelas lebih sublim daripada pertanyaan kedua, yang secara semantik lebih efektif sebagai tanya.

Bila terjebak pada jawaban yang tidak sesuai, Mbah Ma’mun selalu mengingatkan pentingnya memahami makna Subhânallâh, Maha Suci Allah dari segala sifat yang tidak mukhâlafh lil hawâdits, sebagaimana akhir-akhir ini ada golongan yang mengampanyekan kembali paham mujassimah Allah bersemanyam di Arasy.

Lunturnya semangat bertauhid (husnudzan dan bersyukur), diakui atau tidak, telah memecah belah kesatuan umat Islam. Mereka yang hanya menggunakan kalimat tahlil (Lâ Ilâha IllaAllâh) secara artifisial (sebatas jargon bendera), terjebak pada heroisme Maha Besar Allah (takbîr) di jalanan, bersikap apatis dan cenderung ekslusif (dominan sû’udzan).

Baca: Mitos Bendera HTI dan Perampokan Kalimat Tauhid

Kunci surga yang ia adalah kalimat thayyibah (tauhîd-tahlîl) jadi komoditas politik belaka, yang menggeser makna sakralitas. Akibatnya, merasa diri sebagai yang lebih adigang-adigung-adiguno menggejala sebagai sikap beragama.

Karena tidak mendalami hidup bertauhid, banyak manusia yang mendeklarasikan dirinya sebagai “tuhan” yang unsur ke-Aku-annya sangat nampak, sehingga mudah mengafirkan sesama umat Islam hanya karena perbedaan masalah furûiyyah semata. Padahal, bertauhid artinya pengakuan diri sebagai hamba Allah yang wajib sujud menyembah, bukan yang selalu mengatasnamakan Allah dan sedikit-sedikir mengajak Allah dalam segala urusan remeh-temeh penuh nafsu.

Banyaknya hati manusia yang sakit karena tidak mengenal siapa Rabb sesungguhnya, pesan Mbah Ma’mun “Ojo Lali Tauhidé” kiranya perlu dijadikan renungan bersama, kontemplasi berkelanjutan, agar tetap menjadi hamba yang sadar diri atas kehambaannya. Agar sebagai Banî Âdam, kembali mengenali surga, dan mudah membukanya kelak, dengan miftâh(kunci)nya: Lâ Ilâha IllaAllâh. [badriologi.com]

Keterangan:
Artikel ini disusun penulis pra acara Haul tahunan ke-17 KH. Ma'mun Ahmad (Kudus), Safarul Khair 1441 H., dengan tema: Ojo Lali Tauhid-e!