Peradaban Rambut Sakti
Cari Judul Esai

Advertisement

Peradaban Rambut Sakti

M Abdullah Badri
Minggu, 14 Juli 2019

marka bangsa one day menulis esai
Aksi peserta One Day Menulis Esai Marka Bangsa, Sabtu malam, 29 Juni 2019.

Oleh M Abdullah Badri

GARA-gara rambut, seorang muslimah diwajibkan berjilbab. Aurat rambutnya menyimpan bir4hi para lelaki. Rambut bisa bikin ribut? Tapi tak selamanya demikian.

Rambut Rasulullah Saw. misalnya. Opick pernah merasa beruntung karena dititipi menjagai 7 helai rambut Rasulullah Saw. Rambut, dengan demikian, bisa meningkatkan ikatan batin antar pemiliknya.

Karena itulah, siapa saja yang memiliki rambut (man lahu sya'run), jagalah (falyahfadzha), kata Kanjeng Nabi, yang juga gondrong sebahu, sebagaimana orang tidak banyak tahu.

Baca: Lahirnya Koreba - Komunitas Redaksi Balekambang Jepara

Rambut membikin ribut para penggila tren bila trendsetter nya seorang artis. Rambut membuat gila, tanpa fungsi efektivitas kecuali gengsi atas afiliasi -rambut sebagai basis citra diri, yang kekinian, modern, milenial, dan lainnya.

Dalam dunia spiritual, karena rambut bagian dari tubuh yang mudah dilepas, ia jadi target dukun menyalahi pemiliknya. Satu helai rambutnya saja bisa digunakan untuk keperluan santet.

Dari sehelainya pula, oleh pengamal thariqah, juga bisa disimpan agar aman dari siksa kubur. Rambut wali yang Anda simpan bisa membebaskan diri kelak -dari siksa kubur.  Apalagi rambut Rasulullah Saw.

Ukuran pendek rambut, bagi perempuan, bisa bikin ribut suami karena orang lain bingung, mana istri dan mana suami. Peradaban manusia manapun akhirnya sepakat, yang panjang harus perempuan, dan yang pendek harusnya laki-laki. (Ini bukan ukuran rambut dibalik sempak loh yah. Peradaban kita tidak mengatur secara rigit atas rambut simpanan).

Baca: Menulis ke Koran dan Dimanapun Bukan Berdagang, Namun Berkarya

Toh begitu, masih banyak laki-laki yang berambut gondrong. Bahkan banyak para kiai yang berambut gondrong. Biasanya, mereka ini tidak asal panjangin rambut, tapi memang mengikuti sunnah Nabi. Bukankah ukuran rambut Rasulullah Saw. seukuran bahu beliau?

Di Jawa, para kiai gondrong seperti Gus Makshum dan Gus Muwafiq itu sakti. Hanya kiai sakti saja yang rambutnya gondrong tak bisa dipotong, seperti saya mungkin. Hahaha. [badriologi.com]

Keterangan: 
Esai ini ditulis sebagai tugas dalam acara One Day Menulis Esai oleh Marka Bangsa, di Krapyak, Tahunan, Jepara, 29 Juni 2019.