Curhat Salman Al-Farisi Soal Ekonomi Keluarga dan Pahalanya
Cari Judul Esai

Advertisement

Loading...

Curhat Salman Al-Farisi Soal Ekonomi Keluarga dan Pahalanya

M Abdullah Badri
Kamis, 22 Agustus 2019
Loading...

imam dalam keluarga menurut islam
Pahala mengurus keluarga dalam Islam - Kisah Sahabat Ali kw. dan Salman Al-Farisi ra. soal ekonomi keluarga yang kadang memberatkan pencarian nafkah. Foto: istimewa.

Oleh M Abdullah Badri

DARI Sa'id Ibnul Musayyab ra. berkata, suatu kali saat keluar rumah, sahabat Ali kw. berpapasan dengan Salam Al-Farisi ra. Sayyidina Ali kw. bertanya, "bagaimana kabarmu pagi ini, ya Aba Abdillah?"

"Ya Amiral Mukminin, pagi ini aku gundah/kepikiran tentang empat perkara".

"Kenapa? Semoga Allah merahmatimu".

"Memikirkan kebutuhkan keluarga (mencari roti/nafkah), memikirkan agar aku bisa taat kepada Al-Khaliq, memikirkan setan yang selal memerintahkan maksiat dan terbayang malaikat maut yang selalu mengintai nyawaku," jawab Salman.

Baca: Kisah Muallaf yang Terlunta-lunta di Zaman Malik bin Dinar (Ngaji Ushfuriyah Bagian 10)

"Berbahagialah kau Aba Abdillah (Salman Al-Farisi). Tiap langkah yang kau tempa pasti ada imabalan derajatnya (di sisi Allah)," jawab Sayyidina Ali kw., lalu melanjutkan keterangannya lagi, "suatu kali, aku juga pernah bersama Rasulullah Saw. dan beliau bertanya, bagaimana kabarmu, hai Ali?"

"Aku kemudian menjawab; di rumah tiada apapun kecuali air ya Rasul. Aku juga sibuk dengan anak-anakku ya Rasul, gundah untuk selalu taat kepada Al-Khaliq serta susah atas malaikat maut," lanjut Sayyidina Ali kw.

"Bahagialah kau Ali, susah karena sibuk menurus keluarga adalah penghalang neraka, susah karena taat kepada Al-Khaliq adalah pengaman dari siksa, susah karena peduli akhirat adalah jihad dan hal itu lebih utama daripada ibadah 60 tahun. Sedangkan peduli dan sadar atas malaikat maut merupakan penebus seluruh dosa-dosa," jawab Rasulullah Saw.

Nabi Saw. kemudian melanjutkan, "Ketahuilah Ali, sesusungguhnya rezeki para hamba Allah semuanya di tangan Allah. Keprihatinanmu soal itu sama sekali tidak memiliki efek buruk dan manfaat (kepada Allah) melainkan hanya diberikan pahala atas (jerih-payah)nya. Maka, jadilah orang yang selalu bersyukur, taat dan tawakkal, kau akan menjadi salah satu asdiqa' (para kekasih) Allah Ta'ala".

"Apa yang harus aku syukuri?" Tanya Ali kw.

"Kau menjadi orang Islam," jawab Rasulullah Saw.

"Apa yang harus aku taati?"

"Ucapkanlah La Haula wala Quwwata Illa Billahil Aliyyil Adhim".

"Apa yang harus aku tinggalkan?"

"Marah. Meninggalkan sikap marah bisa memadamkan kemarahan Allah Jalla Jalaluh, memperberat isi timbangan amal serta mendorong kepada surga," demikian jawab Rasulullah Saw. kepada sahabat Ali kw.

Baca: Keramat Batu Syahadat (Ngaji Ushfuriyah Bagian 8)

Salman kemudian melanjukan pembicaraan, dia berkata kepada Ali kw., "semoga Allah menambahkan kemulian pada Anda. Sesungguhnya aku juga dalam kondisi prihatin sebab hal-hal ini. Terutama soal keluarga," terangnya.

"Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: من لا يهتم للعيال فليس له للجنة نصيب (barangsiapa tidak pernah memperhatikan keluarga, baginya tidak ada bagian surga)," demikian kata Ali kepada Salman.

"Loh, bukannya Rasulullah Saw. juga pernah bersabda: صاحب العيال لا يفلح أبدا (yang berkeluarga tidak akan beruntung selamanya," kata Salman.

"Salman Al-Farisi, bukan begitu maksudnya. Bila penghasilanmu (untuk keluarga) bagian dari harta halal, kamu beruntung Salman. Surga sangat mencintai orang-orang yang prihatin dan perhatian mengurus keluarganya dengan penghasilan nafkah halal," jawab Sayyidina Ali kw. [badriologi.com]

Keterangan:
Esai ini adalah dokumentasi Ngaji malam Kamisan (Pon), 29 Dzulqa'dah 1440 H/30 Juli 2019. Terjemah Hadits ke-22 Mawa'idul Ushfuriyyah. 

Loading...