Makna Sirotol Mustaqim - Tafsir Surat Yasin Ayat 4-6
Cari Judul Esai

Advertisement

Loading...

Makna Sirotol Mustaqim - Tafsir Surat Yasin Ayat 4-6

M Abdullah Badri
Jumat, 16 Agustus 2019
Loading...

makna diturunkannya al quran (tanzil) dalam surat yasin
Ilustrasi shiratal mustaqim (jalan lurus) dalam tafsir Surat Yasin ayat 4-6.

Oleh M Abdullah Badri

AYAT keempat Surat Yasin, berbunyi:

عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Artinya:
"(yang berada) di atas jalan yang lurus" (QS. Yasin: 4).

Makna jalan lurus dalam ayat di atas adalah dinul Islam (agama Islam). Dalam ucapan lain (korelasi dengan ayat sebelumnya), Allah tegas mengatakan, "hai, Muhammad sesungguhnya engkau salah satu dari para Rasul. Dan agamamu adalah dinul haq (agama yang benar), yakni Islam. Sementara orang-orang kafir dalam agama yang bathil".

Ketegasan Allah Swt. dalam ayat di atas adalah bentuk lain dari sumpahnya Allah bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad Saw. adalah benar-benar utusan Allah.

Mengapa sumpah Allah ditujukan kepada kaum kafir untuk mengajak mereka (kaum kafir) membenarkan Nabi Muhammad Saw. sebagai utusan-Nya, padahal mereka tidak akan mengakuinya sama sekali?

Pertanyaan lain, apa faidah sumpah Allah Swt. dalam ayat tersebut bila maksudnya ditujukan kepada orang-orang beriman. Padahal, tanpa qasam (sumpah), kaum beriman jelas mengakui kebenaran diutus-Nya Rasulullah Saw.?

Baca: Kecintaan Nabi Kepada Para Sahabat Anshor - Rijalul Ansor NU Kuat Menyontoh?

Jawabannya: sumpah dalam surat Yasin itu sebetulnya Allah ingin menguatkan kalam-Nya (khususnya) kepada orang-orang yang ingkar. Jadi, fungsi sumpah dalam ayat di atas sebagai ta'kid atau penguatan. Di sini, qasam Allah Swt. adalah hujjah.

تَنْزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ. لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ    

Artinya:
"(sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai". (QS. Yasin: 5-6).

Kata تَنْزِيلَ yang dibaca nashab (fathah) menunjukkan fungsi bahasa Arab bahwa di dalamnya ada fi'il (kata kerja) yang mahdzuf (dibuang). Bila diungkapkan, kelengkapan ayat tersebut maksudnya adalah إقرأ تنزيل العزيز (bacalah wahyu yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa). Selengkapnya, ayat itu kemudian bermakna, "wahai Muhammad, bacalah wahyu yang diturunkan oleh Yang Maha Perkasa".

Bila dibaca rafa' (تَنْزِيلُ), pakai dhommah, maka kata تنزيل posisinya jatuh sebagai khabar untuk mubtada' yang terbuang (mahdzuf). Bila yang mahdzuf tersebut disertakan, maka, kalimat lengkapnya adalah, هذا القرأن منزل عليك بواسطة جبريل عليه السلام من الله (Al-Qur'an adalah wahyu yang diturunkan kepadamu Muhammad lewat Jibril as. dari Allah Swt.)

Makna الْعَزِيزِ dalam ayat di atas adalah Yang Maha Mengalahkan (Al-Ghalib) dan Yang Maha Menyiksa (Al-Muntaqim) kepada orang-orang yang berbuat maksiat.

Allah adalah الرَّحِيمِ (Maha Penyayang) kepada orang-orang yang taat. Maka, bacakanlah wahai Muhammad Al-Qur'an ini kepada orang-orang yang ingkar sampai mereka mendengarkan kalam-Ku (Allah) dan mereka takut kepada-Ku hingga (keyakinan kufur mereka) setengah (ragu-ragu).

Untuk apa? Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan (لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آبَاؤُهُمْ).

Huruf "lam" dalam kata "litundzira" berfungsi sebagai ta'lil (تعليل) untuk sebuah alasan. Sedangkan "ma" dalam kalimat "ma undzira" fungsinya sebagai "an-nafyu". Jadi, tafsir kalimat itu adalah "bapak-bapak mereka/nenek moyang terdekatnya, tidak mendapatkan peringatan karena faktor lamanya masa fatroh (kekosongan Nabi)".

Ada juga yang menafsirkan kata "ma" dalam "ma undzira" semakna kata "alladzi/الذى (yang)". Bila menggunakan tafsir ini, maka, arti ayat tersebut adalah "untuk memperingatkan kepada kaum yang nenek-moyang mereka juga telah mendapatkan peringatan serupa (sebelumnya)".

Makna kata فَهُمْ غَافِلُونَ (karena itu mereka lalai) adalah lalai dari beriman dan lupa petunjuk-Nya. Secara lebih tegas, Allah menyatakan kepada Rasulullah Saw, "hai, Muhammad, Aku menurunkan kepadamu Al-Qur'an ini untuk memberikan ancaman (ketakutan) kepada kaum yang tidak memiliki rasa takut".

Maksud kaum adalah Quraisy, karena kaum Quraisy, sejak zaman Nabi Isma'il hingga kedatanganmu (Muhammad) tidak ada Nabi atau Rasul yang datang. Mereka lalai, tidak mengenal agama dan tidak mengerti syariat.

Demikianlah makna sirotol mustaqim, makna tanzil Al-Qur'an serta maksud kaum lalai dalam Surat Yasin ayat 4 hingga 6, yang ditulis oleh Syaikh Hamami Zadah dalam Syarah Tafsir Surat Yasin. Jumat dini hari, 16/08/2019. [badriologi.com]

Loading...