Santri Tembelek yang Jadi Kiai
Cari Judul Esai

Advertisement

Santri Tembelek yang Jadi Kiai

M Abdullah Badri
Selasa, 13 Agustus 2019

kebersihan bagian dari iman
Ilustrasi tembelek - kotoran masjid. Foto: istimewa.

Oleh M Abdullah Badri

DALAM sebuah acara reuni alumni Pondok Pesantren Ihya'u Ulumiddin, Cilacap, ada seorang kiai yang sengaja dipanggil ke depan oleh (alm) KH. Musthalih, pengasuhnya, untuk menceritakan kenangannya saat masih menjadi santri.

Dia kemudian menceritakan kenangannya di Pondok Ihya' itu, tentang rutinitasnya yang biasa membersihkan masjid dari kotoran (tembelek). Masjid pondok selalu dia sisir setiap hari, mencari-cari kotoran ayam atau burung yang berangkali ada dan sangat mengganggu. Dia melakukan hal itu rutin setiap hari selama bertahun-tahun, hingga dikenal sebagai santri tembelek.

Bagi santri tembelek, kotoran ayam di masjid bukanlah petaka, melainkan berkah dan amal ibadah. Ia mengaku sering menangis bila dalam sehari tidak menemukan kotoran ayam yang dia bersihkan. '

Baginya, membersihkan kotoran ayam di masjid adalah sedekah amal, yang santri lain jarang mau melakukannya. Hal yang sangat sulit dijumpai oleh muslim kagetan sekarang, dimana ada anjing masuk masjid saja gegernya minta ampun. Baca: Anjing Masuk Masjid? Ini Sindiran Lucu dari Gus Muwafiq.

Santri Tembelek benar-benar mengamalakan "an-nadhafatu minal iman" (kebersihan bagian daripada iman). Dan ia merasakan hal itu terutama ketika lokasi kotor yang ditemuinya di masjid adalah tempat pengimanan kiai dan atau tempat ngaji kiai membacakan kitab kepada para santri pondok. Ia sangat cekatan dan gembira bila menemukan tembelek ada di lokasi strategis meningkatkan iman para santri.

Jadi, dalam membersihkan tembelek tersebut, santri tembelek tidak hanya mangamalkan fiqih thaharah saja, tapi juga tauhid -menjaga agar para santri tetap bersih lokasi shalatnya. Kini, santri tembelek sudah menjadi kiai tembelek, yang sangat dihormati di wilayahnya, Batang. [badriologi.com]

Keterangan:
Cerita ini dituturkan oleh Kang Dwi Muhsinin, alumni Ihya' Ulumiddin, Cilacap, kepada penulis, 10 Agustus 2019, di Jogjakarta.