Keramat Syarif Hamzah bin Umar Al-Marzaq, Pejuang Islam Kota Tarakan yang Berakhir Pancung
Cari Judul Esai

Advertisement

Loading...

Keramat Syarif Hamzah bin Umar Al-Marzaq, Pejuang Islam Kota Tarakan yang Berakhir Pancung

M Abdullah Badri
Kamis, 05 September 2019
Loading...

makam wali hamzah bin umar al marzaq tarakan kaltara
Ziarah ke makam Syarif Hamzah bin Umar Al-Marzaq di Kampung Enam, Kota Tarakan. (Ahad, 1 September 2019).

Oleh M Abdullah Badri

TIDAK banyak yang mengetahui keturunan Rasulullah Saw. yang bergelar Al-Marzaq, keturunan waliyullah Habib Syaich bin Ahmad bin Abdullah Wathab bin Muhammad Al-Manfar, salah satu keturunan Rasulullah Saw. dari jalur Sayyidina Husain ra.

Salah satu habib yang bergelar Al-Marzaq di Indonesia adalah Syarif Hamzah bin Umar Al-Marzaq (1643-1699 M - di masa Amiril Pengiran Maharajalila I dan II dari Dinasti Tengara), yang makamnya dikeramatkan oleh masyarakat Bumi Paguntaka, Kota Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara sekarang).

Disebut makam keramat karena maqbarah tersebut pernah berpindah dari lokasi awal di pinggiran sungai Pamusian, Tarakan Tengah menuju ke tempat yang ada sekarang ini, Kampung Enam, Kota Tarakan, bersebelahan dengan Rumah Balai Adat Tidung, Kota Tarakan.

Ceritanya begini:
Pada abad ke 14, Syarif Umar Al-Marzaq Hadramaut, Yaman Selatan (ada yang menyebut dari Makkah Mukarramah) datang ke Kota Tarakan untuk berdakwah menyebarkan agama Islam. Al-Qur'an, keris dan sebuah tongkat selalu dibawa sebagai media dakwah saat itu.

Pernikahan Syarif Umar Al-Marzaq dengan wanita muallaf kelahiran Kalimantan telah melahirkan tiga putra: 1). Syarif Pengeran Al-Marzaq, 2). Syarif Muda Al-Marzaq, dan 3). Syarif Hamzah Al-Marzaq, yang akan diulas kisah singkatnya dalam artikel ini.

Seperti ayahnya, Syarif Hamzah bin Umar Al-Marzaq juga selalu membawa Al-Qur'an, keris dan tongkat dalam dakwahnya. Ketiga barang warisan itu masih disimpan rapi oleh Haji Umar bin Yahya Al-Marzaq di Sandakan, Sabah, Malaysia.

nasab habib bergelar al marzaq di indonesia
Silsilah Syarif Hamzah bin Umar Al-Marzaq, Kota Tarakan, Kaltara. Foto: dokumen pribadi.

Di daerah Pamusian, Tarakan Tengah sekarang, Syarif Hamzah bin Umar Al-Marzaq menggelar ngaji di pesantren, mengenalkan Islam sebagai agama yang ramah kepada masyarakat sekitar dan para santri.

Lama-kelamaan, dakwah Syarif Hamzah bin Umar Al-Marzaq mendapatkan tantangan dari warga Tarakan secara umum. Penduduk sekitar yang saat itu terjangkit suka maksiat seperti judi, sabung ayam, mabuk-mabukan, dan jenis pekat (penyakit masyarakat) lainnya, mulai menunjukkan ketidaksukaan.

Perlawanan disusun oleh sekelompok kriminal untuk menyingkirkan Syarif Hamzah Al-Marzaq selamanya. Dini hari jelang Subuh, mereka mendatangi pesantren Syarif Hamzah Al-Marzaq dengan tujuan menculik dan membunuhnya. Di atas batang kayu, kepala Syarif Hamzah Al-Marzaq dipenggal secara kejam oleh kelompok tersebut.

Kepala waliyullah Syarif Hamzah Al-Marzaq terpisah dari tubuhnya. Jasadnya dibuang, dihanyutkan ke sugai Pamusian, sementara kepalanya dihanyutkan sepanjang Sungai Sesayap, Bulungan, Kalimantan Utara.

Siang hari esoknya, jasad tanpa kepala itu ditemukan oleh seorang pencari kayu dari Suku Tidung di perairan Sungai Pamusian saat dia keluar dari hutan. Jasad Syarif Hamzah Al-Marzaq kemudian dikuburkan dengan penanda kayu merah sebagai nisannya. 

Baca: Ziarah 10 Menit ke Makam Habib Hamzah bin Umar Al-Marzaq Tarakan

Pada malam hari, salah satu murid Syarif Hamzah bin Umar Al-Marzaq mengaku bermimpi mendapatkan wasiat dan perintah dari Syarif Hamzah sendiri untuk menemukan kepala dan tubuh gurunya tersebut. Sang murid diminta menyatukan bagian tubuh yang telah terpisah.

Setelah mendapatkan petunjuk, dengan bantuan warga kampung, sang murid mulai menelusuri Sungai Sesayap, Kabupaten Bulungan. Sepanjang pencarian, hujan tidak berhenti turun dengan lebatnya. Jerih payahnya tidak sia-sia. Kepala gurunya, Syarif Hamzah Al-Marzaq, berhasil dia temukan ada pada seseorang yang sudah menemukan sebelumnya. Tapi, ia tidak bisa membawa kepala sang guru kecuali harus menebusnya dengan sejumlah uang dan lainnya.

Tebusan itu terpaksa diberikan oleh sang murid, demi perintah gurunya. Sang murid yang tidak diketahui namanya itu pun berhasil membawa pulang kepala sang guru ke Kota Tarakan. Konon saat pulang ini dia ditemani oleh orang-orang yang pada malam itu telah membunuh Syarif Hamzah Al-Marzaq.

Ada yang menyebut, saat terhanyut di sungai, batang kayu yang membawa kepala Syarif Hamzah bin Umar Al-Marzaq berjalan melawan arus ke arah Kota Tarakan.

Atas kuasa Allah Swt., kepala Syarif Hamzah diselamatkan. Awalnya, setelah dipancung, kepala Syarif Hamzah Al-Marzaq hendak dibakar dengan segenap ritual. Akan tetapi, setiap kali akan dibakar, hujan selalu turun terus menerus.

Kisah Wali Allah di Tarakan


Acara pembakaran kepala tidak jadi dilakukan berkali-kali karena hujan yang selalu turun tiap acara dimulai, hingga sang murid datang mengambilnya dengan sejumlah tebusan yang tidak murah tentunya. Ini adalah sebentuk keramat dari Allah Swt.

Selanjutnya, kepala sang guru disatukan dengan jasadnya yang sudah terkubur di liang lahat di pinggiran Sungai Pamusian. Hal aneh terjadi. Begitu kepala akan disatukan dengan jasad terkubur itu, kepala Syarif Hamzah bin Umar Al-Marzaq meloncat, menempel langsung ke jasad tubuhnya tanpa sempat didekatkan secara manual. Darah yang mengalir pun diceritakan berwarna putih dan wangi.

Tidak ada goresan saat penyatuan kepala dan tubuhnya terjadi secara tiba-tiba. Mata kepala yang awalnya terbuka (seperti orang hidup), langsung menutup seperti orang tidur saat disatukan dengan jasadnya. Subhanallah. Baik kepala maupun jasadnya, sama-sama berbau wangi dan masih utuh tanpa rusak sedikitpun. Ini adalah keramat kedua yang diberikan Allah Swt. kepada wali-Nya yang didhalimi.

Kejadian itu disaksikan oleh warga yang ikut menguburkan jasad Syarif Hamzah bin Umar Al-Marzaq di pinggir Sungai Pamusian, termasuk orang-orang yang telah membunuhnya. Sebab itulah banyak orang yang akhirnya bersyahadat mengakui kebenaran Rasulullah Saw. yang dibawa cucunya ke Kota Tarakan. Mereka akhirnya berguru kepada murid-murid Syarif Hamzah bin Umar Al-Marzaq.

Beberapa lama kemudian, makam Syarif Hamzah bin Umar Al-Marzaq bergeser, berpindah dari lokasi awal ke lokasi yang sekarang ini ada, Kampung Enam Kota Tarakan. Posisinya di samping kanan PT. Medco E & P yang berdekatan dengan Stadion Tenis Indoor Telaga Keramat di sebelah kirinya. Tampak dari atas ada bangunan rumah besar yang disebut sebagai Rumah Balai Adat Tidung, Kota Tarakan.

Karena beberapa kisah di atas itulah makam Syarif Hamzah bin Umar Al-Marzaq disebut sebagai makam keramat. Banyak orang yang ziarah setiap saat ke makam tersebut. Bahkan dari negeri jiran. Ada yang datang dari Malaysia, Filipina, Brunai hingga Yaman.

Kini, makam tersebut dirawat dengan baik oleh Habib Salim Al-Marzaq. Ulama', pejabat serta tokoh Kota Tarakan sering ziarah ke makam Habib Hamzah bin Umar Al-Marzaq. Utamanya saat HUT Kota Tarakan. Al-Fatihah! [badriologi.com]

Keterangan:
Artikel di atas disusun penulis dari sumber di Wikipedia dan beberapa situs hikayat, blog berita dan travel serta website lembaga resmi.

Loading...