Meluruskan Makna "Urip Mung Mampir Ngombe" dan "Ojo Nandur Kerep-kerep"
Cari Judul Esai

Advertisement

Meluruskan Makna "Urip Mung Mampir Ngombe" dan "Ojo Nandur Kerep-kerep"

M Abdullah Badri
Selasa, 24 September 2019

kalimat bahasa jawa untuk para petani sawah
Ojo nadur pari kerep-kerep. Foto: istimewa.

Oleh M Abdullah Badri

ORANG Jawa memiliki jargon hidup anti susah yang memang benar-benar ampuh dijadikan sebagai spirit of word (kekuatan kata-kata). Jargon itu terkenal dengan ungkapan: Urip Mung Mampir Ngombe (hidup hanya untuk mampir istirahat minum air - sementara), karena hidup adalah perjalanan panjang menuju sangkan paraning dumadi.

Oleh seorang pemuda nakal yang suka mabuk, "ngombe" dalam kalimat di atas dimaknai sebagai meminum minuman keras (arak). Karena tujuan hidup adalah untuk "ngombe", maka, dia mengajak kawan lain yang santri untuk "ngombe" botolan alkohol.

Dalam tradisi tafsir, pemaknaan "ngombe" dalam "urip mung mampir ngombe" adalah makna tafsir yang syadz atau menyimpang. Sayyidina Ali menyebut cara seperti itu sebagai kalimatu haqqin urida biha al-bathil (kalimatnya benar, tapi dimaksudkan untuk perkara batil).

Kalimat lain yang ditafsirkan lucu dan syadz adalah analogi menanam padi. Dalam dunia petanian, menanam padi janganlah terlalu dekat. "Ojo nandur pari kerep-kerep" (jangan menanam padi terlalu kerap/dekat jarak). Begitu kata para ahli tani di desa. Artinya, bila padi kau tanam terlalu dekat, tidak akan membuahkan hasil, bahkan rusak tidak akan panen.

Tapi, oleh para penafsir sak karepe dewe, kalimat itu dimaknai begini: jangan terlalu sering beribadah, padi yang ditanam terlalu sering saja tidak akan panen kok, apalagi ibadahmu. Hahaha. Begitu katanya. Baca: Syarat Masuk Surga Tanpa Ibadah.

Jadi, beribadahlah, tapi jangan sering! Demikian kelakarnya. Dia mengucapkan kalimat tersebut sambil mabuk. Namanya orang mabuk, ya bebas ngomong lah. Hahaha. [badriologi.com]