NKRI Harga Mati Sebagai Daulah Santri Nusantara
Cari Judul Esai

Advertisement

Loading...

NKRI Harga Mati Sebagai Daulah Santri Nusantara

M Abdullah Badri
Sabtu, 07 September 2019
Loading...

daulah islamiyah menurut kalangan santri adalah nkri
NKRI Harga Mati Daulah Santri Nusantara. Foto: istimewa.

Oleh M Abdullah Badri

BAGI kalangan santri, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan sebuah daulah (negara) yang final. Bila sebagian kecil umat Islam Indonesia memperjuangkan daulah Islamiyyah sebagai basis politik ideologis memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai "hukum Allah", maka kalangan santri tegas, daulah itu adalah NKRI.

Daulah bukanlah perebutan kekuasaan. Menurut santri, daulah adalah wilayah. Dalam Muktamar NU ke 11 tahun 1938 di Banjarmasin, tanah Hindia Belanda saja sudah disebut Darul Islam (merujuk Kitab Buhyatul Musytarsidin), apalagi sekarang, yang sudah terbebas dari kolonial Belanda dan Jepang.

Artinya, santri tidak pernah membincang kekuasaan secara rigit selama di tanah kelahirannya, syariat Islam dan dakwah Islam tetap bisa berkembang dan tidak ada yang menghalangi secara nyata. Karena itulah, cinta tanah air (hubbul wathan) dikenal santri sebagai bagian dari penanda iman.

Jargon itulah yang dijadikan KH. Hasyim Asy'ari dalam memompa semangat juang kaum muda tanah air di zaman pergerakan Indonesia menuju merdeka (1912-1926). Pada saat bersamaan, gerakan cinta tanah air diwujudkan oleh KH. Wahab Chabullah dengan mendirikan Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air) pada tahun 1924 dengan Abdullah Ubaid (Kawatan) sebagai ketuanya, Thohir Bakri (Peraban) sebagai Wakil Ketua, dan Abdurrahim (Bubutan) sebagai sekretaris.

Baca: Sejarah Kronologis Terbentuknya GP. Ansor Banser NU Sebelum Kemerdekaan RI

Gerakan tersebut adalah embrio berdirinya Gerakan Pemuda (GP). Ansor, yang dulu, sebelum dinamai Ansoru Nahdlatul Ulama (ANO) tahun 1932, semangat perjuangannya selaras dengan seirama dengan perjuangan Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatra, Jong Minahasa, Jong Celebes, dan lainnya, hingga berujung pada Sumpah Pemuda 1928.

Artinya, gerak juang kalangan santri tidak pernah keluar dari semangat nasionalisme (wathaniyah) yang menurut sebagian kecil umat Islam yang tidak paham hubbul wathan dituduh sebagai sistem kafir yang tidak ada landasannya dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits.

Andai saja nasionalisme yang dijadikan gerakan Kiai Hasyim dan Kiai Wahab menyalahi jiwa Al-Qur'an, tentu saja tidak ada Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang digaungkan Nahdlatul Ulama'(NU) dan umat Islam di Jawa dan Madura untuk mengusir pendudukan kembali Belanda bersama sekutunya di Surabaya, yang kemudian meletuskan perang 10 November 1945. Resolusi Jihad itulah yang kemudian diperingati sebagai Hari Santri, sejak 2015 lalu. 

Kiai Hasyim waktu itu adalah simbol ulama' dan panutan para santri dan seluruh penduduk Jawa, yang tidak mungkin bergerak kecuali memang benar-benar sesuai dengan syariat Islam. Dan Jumhur Indonesia, NKRI, adalah daulah yang harus diperjuangkan oleh kalangan santri, saat itu hingga kini.

Meski khilafah Turki Ustamani sudah runtuh tahun 1924, kalangan santri di tanah air tidak pernah menuntut kembalinya khilafah tersebut seperti dinostalgiakan oleh kalangan umat Islam belakangan, para pengikut Taqiyyuddin An-Nabhani sejak tahun 1953.

Santri menginginkan agar Indonesia menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr, jauh dari konflik sesama anak bangsa, dan saling menjaga dengan sikap tawassuth, tawâzun, tasâmuh dan i’tidâl.

NU menjadi faktor dan aktor sejarah penting yang terbukti menjaga keutuhan NKRI sejak zaman bergerak Indonesia hingga mengalami zaman bergolak berkali-kali. Tanpa pengorbanan, pengabdian dan perjuangan yang tulus, hal itu tidak akan mungkin terjadi. Itulah manhaj politik kebangsaan NU. Sejak dulu, dan hingga kini berpihak kepada kesatuan NKRI, yang ia sudah final sebagai daulah.

Momen Peringatan Hari Santri 2019 adalah peneguhan kembali bahwa tanpa NKRI, Islam tidak akan berkembang dan bahkan akan merusak persatuan yang sudah dibangun oleh para pendiri bangsa sejak 1945. Karena itulah, tema kali ini adalah "NKRI Daulah Santri". [badriologi.com]

Keterangan:
Esai ini adalah pendahuluan proposal kegiatan Hari Santri 2019 yang diselenggarakan oleh PAC GP. Ansor Kecamatan Bangsri, Jepara. 

Loading...