Siapa Sih yang "Berpenyakit" Ain? -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Siapa Sih yang "Berpenyakit" Ain?

M Abdullah Badri
Kamis, 30 September 2021
Flashdisk Ebook Islami

Buku Terjemah Daqaiqul Akhbar
penyakit ain menurut islam sufi
Konfercab Ansor Jepara (Jumat, 25 September 2021) sempat mengalami deadlock. Foto: badriologi.com


Oleh M. Abdullah Badri


𝐄𝐒𝐀𝐈 kronologis Konfercab Ansor ke-13 berjudul "Deadlock Adab" dalam Konfercab Ansor Jepara 2021, yang saya tulis pada 25 September 2021, mendapatkan tiga respon esai opini yang menolak dan satu respon opini yang menerima. Berikut ini masing-masing judulnya: 


1. 𝑇𝑎𝑓𝑠𝑖𝑟 𝑆𝑒𝑠𝑎𝑡 '𝐷𝑒𝑎𝑑𝑙𝑜𝑐𝑘 𝐴𝑑𝑎𝑏 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 𝐾𝑜𝑛𝑓𝑒𝑟𝑐𝑎𝑏 𝐴𝑛𝑠𝑜𝑟 𝐽𝑒𝑝𝑎𝑟𝑎' (penulisnya tuan anonim, tapi dimuat oleh akun Facebook Muhammad Kholiqul Amri pada 26 September 2021). Menurut saya, esai ini simplistik dan agak reaktif.  


2. 𝐼𝑙𝑢𝑠𝑖 𝐴𝑑𝑎𝑏 𝑣𝑖𝑠 𝑎 𝑣𝑖𝑠 𝑆𝑦𝑎𝑟𝑖𝑎ℎ 𝑂𝑟𝑔𝑎𝑛𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖 (ditulis Mas Zakariya Anshori. Tulisannya dikirim langsung ke WA saya pada 27 September 2021 dan dimuat di situs 𝑠𝑢𝑎𝑟𝑎𝑏𝑎𝑟𝑢 dot id). Esai ini sifatnya normatif tapi 𝑐𝑒𝑡ℎ𝑎𝑟-𝑐𝑒𝑡ℎ𝑜𝑟.  


3. 𝐽𝑎𝑙𝑎𝑛 𝐵𝑢𝑛𝑡𝑢 𝐾𝑜𝑛𝑓𝑒𝑟𝑐𝑎𝑏 𝑋𝐼𝐼𝐼 𝑃𝐶. 𝐺𝑃. 𝐴𝑛𝑠𝑜𝑟 𝐽𝑒𝑝𝑎𝑟𝑎: 𝑇𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎𝑝𝑎𝑛 𝐴𝑡𝑎𝑠 𝑇𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎𝑝𝑎𝑛 (𝐵𝑎𝑔𝑖𝑎𝑛 1) (ditulis oleh Ahmad Saefudin dan di𝑡𝑎𝑔 ke Facebook saya pada 28 September 2021). Esai ini naratif, dan membela esai saya. Saya kutip beberapa saja. Biar pihak kontra saja yang merespon lebih.


4. "𝑄𝑢𝑜 𝑉𝑎𝑑𝑖𝑠 𝐴𝑛𝑠𝑜𝑟 𝐽𝑒𝑝𝑎𝑟𝑎? 𝐶𝑎𝑟𝑒𝑡𝑎𝑘𝑒𝑟 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖 𝐽𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑛𝑔𝑎ℎ?" (𝐵𝑎𝑔𝑖𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑑𝑢𝑎 𝑑𝑎𝑟𝑖 2 𝑇𝑢𝑙𝑖𝑠𝑎𝑛). (ditulis Mas Zakariya Anshori. Tulisannya dikirim langsung ke WA saya pada 28 September 2021 dan dimuat di situs suarabaru dot id). Esai ini sifatnya menyarankan. Saya skip bahas. Itu hak beliau sebagai senior. 

  

Tulisan-tulisan lain yang pro maupun kontra tersebar banyak di Facebook. Sayangnya, rata-rata berupa status tanpa judul dan tidak disusun sebagai opini yang ditulis dalam artikel rapi. Energi literasi sahabat Ansor di Jepara memang tinggi. 𝐾𝑒𝑐𝑒 𝑡𝑒𝑛𝑎𝑛. Acung jempol untuk mereka semua!  


Baca: Konfercab Ansor Jepara dan Blumbang Amoh NU


Saya sebetulnya ogah menanggapi penulis anonim. Tapi, karena senior dan sahabat baik saya, Mas Zakariya (Mas Yank) ikut merespon dengan tulisan yang isinya hampir senada dengan tuan anonim, saya mohon ijin kepadanya turut merespon balik tulisan dia. Ya sekalian saja merespon tuduhan "tafsir sesat" penulis anonim itu. Cukup satu tulisan saja, tanpa sambungan. Biar efektif. 


Hampir seluruhnya, esai kronologis saya berisi fakta yang bisa disaksikan oleh peserta sidang di ruangan besar Gedung MWC NU Tahunan. Bukti paling nyata, saya tidak dituduh telah melakukan praktik pembohongan. 


Mereka sama sekali tidak menulis dengan kata bohong, ngawur atau hoaks, kepada saya. 𝐶𝑙𝑒𝑎𝑟 yah, tulisan saya bersifat kronologis, bukan manipulatif (sengaja menulis tidak sesuai fakta untuk menyesatkan pembaca). 𝐻𝑎𝑚𝑑𝑎𝑛 𝑙𝑖𝑙𝑙𝑎ℎ, esai saya jadi penebar cahaya, demikian kata ketua panitia Konfercab ke saya. 


Siapkan kopi, mari kita bahas! 

  

𝑷𝒆𝒓𝒕𝒂𝒎𝒂, saya mencoba bersikap senetral mungkin. Perhatikanlah, dalam esai itu, protes interuptor dan kalimat yang terucap dari semua calon saya kutip dan saya pilih tanpa menambah tafsirnya. Bacalah, saya skip nama interuptor maupun kata-kata dan gerakan tubuh yang saya anggap kurang pantas di𝑝𝑢𝑏𝑙𝑖𝑠ℎ, baik itu dari para calon (sesaat setelah keluar dari ruangan tertutup), dari sang interuptor, maupun dari pimpinan sidang (kala di parkiran mobil menuju pulang tanpa jadi menginap hotel). 


Ekspresi 𝑔ℎ𝑜𝑑ℎ𝑜𝑏 pimpinan sidang pun hanya saya hikayatkan saja. Saya skip menafsirkan. Tafsirnya saya serahkan kepada pembaca. Saya juga tidak menulis bagaimana respon beberapa pimpinan ranting pendukung Saiful Khalim, Gus Sabiq maupun Ainul Mahfudz, setelah tragedi itu. Saya skip pula isi pembicaraan saya pada foto pelengkap esai di bawah postingan ini. 


Intinya, dalam tiga esai kontra tersebut, saya dituduh: 1). Menggiring opini dengan kalimat "𝑑𝑒𝑎𝑑𝑙𝑜𝑐𝑘 adab", 2). Menafsirkan secara sepihak bahwa semua calon sudah menerima kesepakatan mufakat di ruang rahasia itu. Tak ayal, esai saya pun disebut Mas Zakaria sebagai "ilusionis, halusinatif dan imaginatif". Mas Yank 𝑘𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑒𝑛𝑔 𝑛𝑔𝑔𝑙𝑢𝑤𝑖ℎ, masak saya mau disamakan master Deddy Corbuzier? Hahaha. 


Tuan anonim bahkan lebih berani lagi dari Mas Yank. Baginya, saya "menggiring opini untuk menunjukkan siapa salah dan siapa berhak benar". Waduh. Mohonlah Anda perhatikan, tuan. Baca juga: Agar Ansor Jepara Bisa Kondang di Banyak Kandang.


Di akhir paragraf, saya hanya mengungkap tanya: "mengapa dalam acara Konfercab GP. Ansor Jepara itu ada "𝘥𝘦𝘢𝘥𝘭𝘰𝘤𝘬 adab", bukan cuma 𝘥𝘦𝘢𝘥𝘭𝘰𝘤𝘬 keputusan?". Di sana tak ada tambahan kalimat langsung yang berfungsi untuk menuduh siapa yang beradab dan tidak beradab. Justru Anda saya acungi jempol karena berani menunjuk hidung pimpinan sidang sebagai target kalimat "𝘥𝘦𝘢𝘥𝘭𝘰𝘤𝘬 adab" dari tulisan Anda. Saya tidak seberani itu 𝑚𝑒𝑛𝑎'𝑤𝑖𝑙 peristiwa, seperti tuan.

 

𝑲𝒆𝒅𝒖𝒂, judulnya pun saya beri tanda petik ganda ("...") "𝘥𝘦𝘢𝘥𝘭𝘰𝘤𝘬 adab". Secara bahasa, selain berfungsi sebagai pengapit kutipan naskah buku atau narasumber berita, kata yang terapit dalam dua tanda petik ganda menunjuk istilah khusus yang memiliki maksud tertentu serta masih membutuhkan penjelasan. Petikan ganda dan tanda tanya merupakan kode-kode penting yang dibutuhkan oleh para penulis berita, artikel ilmiah maupun populer. 


Sebagai kode, saya sendiri kadang menambahkan ayat Al-Qur'an, kutipan hadits atau bahkan futurisme (ℎ𝑜𝑝𝑒) yang barangkali hanya bisa dimengerti maksudnya oleh aktor dan pemilik intuisi kuat terkait pesan dalam kode. Coba periksa, esai saya itu ada ayat Al-Qur'an dan futurisme-nya. Silakan periksa! Pasti ada. Saya bermain kode 𝑎𝑠𝑏𝑎𝑏𝑢𝑛 𝑛𝑢𝑧𝑢𝑙 ayat di sana. Kepada siapa ayat itu ditujukan, bisa dilacak.

  

Tanda petik ganda dalam kata "𝘥𝘦𝘢𝘥𝘭𝘰𝘤𝘬 adab" juga saya buang objeknya (𝑚𝑎ℎ𝑑𝑧𝑢𝑓). Hanya tuan anonim lah yang berani mengarahkan kalimat itu kepada pimpinan sidang, dalam barisan kalimat susunan dia sebelum dimulainya kalimat "peserta ditinggalkan begitu saja tanpa kata-kata yang kurang beradab". 


Mas Yank beda, ia mengetahui trik saya. 𝐴𝑠𝑦𝑒𝑚 𝑡𝑒𝑛𝑎𝑛. Hahaha. "Dengan sangat cerdas, si Pemilik akun seolah sengaja membiarkan pembacanya untuk berimajinasi bahwa pertemuan tertutup itu telah mencapai 'kesepakatan' musyawarah mufakat antar bakal calon ketua," tulisnya. 


Saya membiarkan pembaca menyusun perspektifnya sendiri. Saya tidak berhak memaksa pembaca mengikuti saya karena saya bukanlah salah satu peserta yang tergabung dalam ruang rahasia itu. Apalagi mengetahuinya langsung. Ketahuilah, saya tahu isi kesepakatan setelah ketiban bocoran info dari salah satu peserta di ruangan tertutup, dimana Mas Yank dan tuan anonim mungkin tidak memerolehnya.

 

Yakinlah dengan benar wahai tuan anonim, saya itu romli hakiki, yang tidak memiliki kapasitas masuk ke ruangan tertutup. Saya minta kopi ke komandan Banser saja ditolak halus, kok. Tanyakan saja kepada Kang Rais (Kembang), ketua panitia. Saya yakin, Kang Rois bisa membuktikan kalau status resmi saya sebagai romli tidak bisa diganggu gugat bahkan oleh tuan anonim sekalipun. Hahaha.

 

Saya romli yang tidak memiliki kemampuan 𝑤𝑎𝑙𝑖𝑦𝑢𝑙𝑙𝑎ℎ yang "𝑤𝑒𝑟𝑢ℎ 𝑠𝑒𝑑𝑢𝑟𝑢𝑛𝑔𝑖 𝑝𝑖𝑛𝑎𝑟𝑎𝑘" seperti ditulis tuan anonim. Tak perlu lah mengutus tentara langit untuk mengulik suatu peristiwa yang belum didengar banyak orang. Hanya dengan men-𝑛𝑗𝑒𝑚𝑏𝑟𝑒𝑛𝑔 𝑘𝑢𝑝𝑖𝑛𝑔 saja sudah bisa mendengar kok. 𝑂𝑗𝑜 𝑔𝑢𝑚𝑢𝑛𝑎𝑛 𝑛𝑔𝑜𝑛𝑜, 𝑎ℎ. 𝐵𝑖𝑎𝑠𝑎 𝑤𝑎𝑒! 


𝑲𝒆𝒕𝒊𝒈𝒂, kata kunci adab bukan dari saya, tapi dari pimpinan sidang. "Jangan bicara status, kita di sini bicara adab," kata dia. Selain itu, pimpinan sidang juga mengeluarkan kalimat yang saya anggap sangat penting, yakni: "Ternyata apa yang diucapkan tadi berubah. Saya tidak bisa melanjutkan". Meski tidak menyaksikan langsung apa yang terjadi di ruang lobi tertutup itu, dari barisan kalimat "berubah", saya menangkap kalau pimpinan sidang mengalami kekagetan luar biasa.

 

𝑨𝒏𝒅𝒂𝒊 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒕𝒆𝒓𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒌𝒆𝒔𝒆𝒑𝒂𝒌𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒂𝒏𝒕𝒂𝒓 𝒑𝒂𝒓𝒂 𝒄𝒂𝒍𝒐𝒏 𝒌𝒆𝒕𝒖𝒂, 𝒂𝒑𝒂𝒌𝒂𝒉 𝑮𝒖𝒔 𝑳𝒖𝒕𝒉𝒇𝒊 𝑻𝒉𝒐𝒎𝒂𝒇𝒊 𝒃𝒆𝒓𝒔𝒆𝒅𝒊𝒂 𝒌𝒆𝒍𝒖𝒂𝒓 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒓𝒖𝒂𝒏𝒈 𝒂𝒌𝒍𝒂𝒎𝒂𝒔𝒊 𝒕𝒆𝒓𝒕𝒖𝒕𝒖𝒑 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒎𝒆𝒏𝒖𝒋𝒖 𝒓𝒖𝒂𝒏𝒈 𝒑𝒆𝒏𝒈𝒖𝒎𝒖𝒎𝒂𝒏 𝒔𝒊𝒅𝒂𝒏𝒈? Logika politiknya, bila belum beres terjadi mufakat, Gus Luthfi tentu akan pulang lebih dulu tanpa mau hadir ke ruangan sidang yang lebih luas, untuk mengumumkan. Wajar bila beliau berani meminta baiat "rela" dan ikhlash kepada peserta sidang.


Baca: Empat Dagangan Penting Calon Ketua Ansor Jepara

 

Jadi, tuduhan tuan anonim bahwa saya hanya "menduga-duga saja kalau diantara para calon sudah legowo dan ikhlas menerima hasil dari pertemuan terbatas", tidak sah, alias batal. Saya tidak menduga, apalagi berimajinasi, seperti dituduhkan Mas Yank. 𝑄𝑎𝑟𝑖𝑛𝑎ℎnya jelas kok, yakni: kata "berubah" yang diucapkan oleh pimpinan sidang dari PP Ansor. 


Lalu, apa yang "berubah"? Sudah ketemu jawabannya? Yap. Betul. Jawaban Anda shahih! 


Bila para calon belum mencapai titik kesepakatan, silakan selesaikan di ruang meja tertutup itu. Andai dalam penentuan mufakat itu ada "pemaksaan permufakatan jahat dan intimidatif" seperti ditulis Mas Yank, ya silakan selesaikan sebelum pengumuman atau setelah pengumuman lah (gugat hukum, misalnya). 


Biarkan ruang sidang tetap sejuk sampai Konfercab berakhir. Bukan dengan cara-cara yang mengakibatkan terjadinya 𝑑𝑒𝑎𝑑𝑙𝑜𝑐𝑘 begitu. Kasihan kader-kader Ansor di ranting. Terlepas dari misi tulisan ini, saya bisa ajukan tanya, lebih penting mana antara adab dan ilmu pengetahuan atau PD/PRT? Saya menjawab: adab. 


Dalam adab ada khidmah, dimana nafsu sebagai manusia --yang butuh dihormati-- rela ditanggalkan demi adab. Seorang santri rela 𝑛𝑔𝑒𝑠𝑜𝑡 menemui kiainya loh, padahal, mereka sama-sama anak Adam. Santri seperti budak, kiainya bak raja. Seolah tidak ada kesetaraan dalam praktik adab.

 

Ilmu pengetahuan politik modern mana yang membenarkan praktik itu? Barangkali, hanya demokrasi lah yang berpeluang besar menuduhnya sebagai bentuk diskriminasi atau bahkan intimidasi. Demokrasi 𝑜𝑟𝑎 𝑘𝑒𝑛𝑎𝑙 istilah adab seperti praktik 𝑡𝑎'𝑑ℎ𝑖𝑚 dalam tradisi pesantren di Nusantara. (Bacalah sejarah bentrok demokrasi dan monarkhi! - Kalau ngajak bahas ini, saya siap, asal tersedia kopi 𝑠𝑎𝑘 𝑢𝑔𝑜𝑟𝑎𝑚𝑝𝑒𝑛𝑒. Haha).

 

Saya tidak setuju opini Mas Yank bahwa "adab tertinggi dalam organisasi adalah PD/PRT". Kalau adab ala Mas Yank diterapkan di Ansor, dan akhirnya terjadi perpecahan, misalnya, apa yang dimiliki organisasi? Perseteruan abadi yang tidak didukung pimpinan tertinggi? Itu tidak PD/PRT lagi namanya, tapi KDRT. Hahaha.


Ansor bukan partai politik Mas, yang sah dan bisa leluasa membuat rezimnya sendiri. Di Ansor ada adab dan warisan sanad ilmu yang butuh dilindungi.  

 

"Dorongan penyelesaian secara aklamasi sejak awal telah diwacanakan, baik oleh Pimpinan Pusat, Wilayah, maupun Kabupaten. Tujuannya tidak lain ialah meredam friksi antar kandidat," tulis kang dosen Ahmad Saefudin, yang memiliki hak suara di Konfercab. Saat mengusung calon (tapi mundur), saya sudah mendengar kalimat ini dari elit Ansor di Jepara.


Baca: Wali Paidi Diperintah Mbah Sunan Ambil Duit Peziarah

 

Kalimat kang dosen di atas saya nyatakan sebagai jawaban atas Mas Yank yang berasumi kalau saya tidak "memahami suasana kebatinan PAC GP Ansor dan PR GP Ansor se-Jepara," yang membuat harapan peserta Konfercab "pupus seketika, karena tidak ada tahapan pemilihan ketua". Kang dosen adalah bagian dari "PR GP Ansor se-Jepara". 


Menurut saya, perolehan rekomendasi pada hakikatnya adalah 𝑣𝑜𝑡𝑖𝑛𝑔 tertutup. Meski begitu, saya meyakini kalau mufakat adalah mekanisme politik kultural di NU yang bisa menjadi tameng dari para "mas-mas pemain" agar tidak leluasa bermanuver dengan kapitalnya. 


Saya mengamini Gus Nadhif yang menyebut "polling dalam tradisi NU tidak etis". Agar etis dan beradab, mufakat lebih baik. Bukan dipaksa, tapi diminta supaya tetap bermufakat, agar yang kalah tetap diakomodasi, tetap bareng ngopi.

 

Kalau sudah diminta mufakat, dan semua calon bilang "iya", lalu berbalik bilang "tidak" saat hadir ke hadapan massanya, siapa sih yang sebetulnya "berpenyakit" ain? Rumput yang bergoyang tak akan mampu menjawab. Dia sedang butuh siraman agar kembali segar. [badriologi.com]


Keterangan:

Esai ini pertama kali dimuat penulis di akun Facebook pribadi pada Senin, 28 September 2021 (3 hari setelah Konfercab Ansor Jepara digelar).


Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB