"Deadlock Adab" dalam Konfercab Ansor Jepara 2021 -->
Cari Judul Esai

Advertisement

"Deadlock Adab" dalam Konfercab Ansor Jepara 2021

M Abdullah Badri
Senin, 27 September 2021
Flashdisk Ebook Islami

Buku Terjemah Daqaiqul Akhbar
konfercab gp ansor jepara 2021
Pimpinan sidang dalam Konfercab GP. Ansor Jepara di Gedung MWC NU Tahunan, Jumat malam, 25 September 2021. Foto: dokumen pribadi.


Oleh M. Abdullah Badri


𝐷𝑒𝑎𝑑𝑙𝑜𝑐𝑘 terjadi dalam proses pemilihan ketua GP. Ansor Jepara yang digelar di Gedung MWC NU Tahunan, Jepara, pada Jumat malam, 24 September 2021, kemarin. Pasalnya, kesepakatan mufakat yang sudah terjadi antar tiga calon, tiba-tiba berubah. 


Berikut ini adalah hasil perolehan rekomendasi tertulis dan sah antar calon yang bertarung dalam Konfercab tersebut: 


𝟏. 𝐀𝐢𝐧𝐮𝐥 𝐌𝐚𝐡𝐟𝐮𝐝𝐳 = 𝟖𝟏 

𝟐. 𝐒𝐚𝐛𝐢𝐪 𝐖𝐚𝐟𝐢𝐲𝐮𝐝𝐢𝐧 = 𝟓𝟒

𝟑. 𝐒𝐚𝐢𝐟𝐮𝐥 𝐊𝐡𝐚𝐥𝐢𝐦 = 𝟒𝟕


Pemenangnya adalah Ainul Mahfudz. Bila di partai atau ormas lain, Ainul Mahfudz harusnya bisa langsung ditahbiskan sebagai ketua. Fitrah politik praktisnya begitu. Tapi, karena ini di GP. Ansor, semua calon "diinstruksikan" pimpinan tertinggi supaya legowo dan saling menerima hasilnya, dengan tetap menghormati pemilik rekom terbanyak. 


Baca: Konfercab Ansor Jepara dan Blumbang Amoh NU


Artinya, meskipun menang, untuk menjadi ketua sah, Ainul Mahfudz harus menerima ungkapan "lapang dada" terlebih dulu dari kedua rivalnya, di hadapan pendukung masing-masing. Gus Luthfi Thomafi, -𝘱𝘦𝘳𝘸𝘢𝘬𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘗𝘪𝘮𝘱𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘗𝘶𝘴𝘢𝘵 (𝘗𝘗) 𝘎𝘗. 𝘈𝘯𝘴𝘰𝘳-, segera mengajak mereka duduk bersama mencapai kesepakatan, agar saling menerima.


Setelah lama ditunggu, tercapailah kesepakatan. Yakni, Ainul Mahfudz tetap ketua terpilih. Gus Sabiq sekretaris dan Saiful Khalim rencananya diposisikan sebagai wakil ketua. Forum terbatas dalam ruang tertutup itu diakhiri dengan bacaan Surat 𝘈𝘭-𝘍𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘩 bersama. 𝘊𝘭𝘦𝘢𝘳. 


Gus Luthfi Thomafi dan perwakilan dari PW. GP. Ansor Jawa Tengah pun bergegas menuju ruang sidang untuk mengumumkan hasil mufakat itu kepada seluruh peserta yang sudah lama menunggu, baik dari ranting, PAC maupun 𝘳𝘰𝘮𝘭𝘪 (rombongan liar), seperti saya. Haha. 


Semua calon dipanggil ke depan oleh pimpinan sidang. Ainul hadir duluan. Kedua calon lainnya belum hadir. Beberapa kali mereka dipanggil. Sambil menunggu keduanya, Gus Luthfi Thomafi memberikan ceramah singkat berkaitan awal mula dirinya diajak berjuang bersama Ansor saat masih di Mesir dan berlanjut menjelaskan motif terbentuknya MDS Rijalul Ansor.  


"Atas nama PP, kami mengusulkan sahabat Ainul Mahfudz jadi ketua. Apakah sahabat semuanya 𝘳𝘪𝘥𝘭𝘢 dan 𝘪𝘬𝘩𝘭𝘢𝘴𝘩 kami menunjuk Sahabat Ainul Mahfudz sebagai ketua GP. Ansor Jepara?" Demikian permintaan mufakat Gus Luthfi Thomafi usai ceramah. 


Pertanyaan itu dijawab "rela" dan tepuk tangan hangat para peserta sidang yang hadir. Tak berapa lama setelah itu, -𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘎𝘶𝘴 𝘚𝘢𝘣𝘪𝘲 𝘥𝘢𝘯 𝘚𝘢𝘪𝘧𝘶𝘭 𝘒𝘩𝘢𝘭𝘪𝘮 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘥𝘪𝘳- muncul interupsi dadakan dari salah satu kader Ansor perwakilan Kecamatan Welahan, Jepara. 


Baca: Syaikh Imran Hosein dan Akhir Zaman di Indonesia


"Tidak seluruh kader di Jepara sepakat mengusung Mas Ainul. Hanya ada 6 PAC yang mengusungnya. Lagipula, calon yang diusung tidak sepakat," kata dia. Suasana yang awalnya bergemuruh hangat pun tiba-tiba menegang. Para calon yang diusung saja belum resmi mengumumkan isi kesepakatan, tapi salah satu pendukungnya sudah ada yang mengeluarkan opini duluan.  


Ketegangan makin menyeruak ketika dia mengusulkan 𝘷𝘰𝘵𝘪𝘯𝘨, dan bukan mufakat antar para calon. "Secara lisan, tadi (para calon) sudah 𝘬𝘦𝘧𝘶𝘵𝘶𝘩 semua menerima konsep kami," jawab Gus Luthfi Thomafi. 


Interuptor masih kekeh mengusulkan pilihan 𝘷𝘰𝘵𝘪𝘯𝘨 sesuai PO (Peraturan Organisasi), atas nama statusnya sebagai peserta sidang yang sah teregister, "jangan bicara status, kita di sini bicara adab," timpal pimpinan sidang dari salah satu perwakilan PW. Ansor Jawa Tengah. 


"Apakah masih percaya pada pimpinan?" Lanjutnya. 

"Percaya...!" Seru mereka. 


Jika Ansor tidak bersatu dan tidak menghormati mufakat yang diambil antar masing-masing calon, bagaimana bisa kader Ansor memperjuangkan dan mempertahankan ideologi aswaja dan keutuhan NKRI? Itulah kalimat yang diungkapkan oleh pimpinan sidang, yang nampaknya bisa meredakan ketegangan sang interuptor. Ia kembali duduk. Suasana pun makin mencair setelah lantunan shalawat 𝘈𝘴𝘺𝘨𝘩𝘪𝘭 digemakan bersama seluruh kader Ansor yang ada di ruangan. 

 

Tak berapa lama, Gus Sabiq yang dikawal Banser terlihat melangkah menuju ruangan sidang, disusul Saiful Khalim. Mereka berdua langsung duduk di depan. Gus Luthfi Thomafi kemudian menyilakan masing-masing calon berbicara kepada peserta sidang tentang isi mufakat yang sudah diputuskan dengan 𝘈𝘭-𝘍𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘩, sesaat lalu itu.

 

"Tadi sudah ada kesepakatan antara kami dengan Gus Luthfi Thomafi," aku Ainul datar. Gus Sabiq kemudian giliran bicara. "Keputusan ini tidak bisa diterima dan saya ingin melanjutkan proses," kata dia. Nampak tercekat, Gus Luthfi Thomafi menoleh ke arah Gus Sabiq. Brrr...


Baca: Risalah Konfercabiyah Al-Adabiyah


"Saya limpahkan suara saya untuk mendukung sahabat Sabiq," ungkap singkat Saiful Khalim. Tentu saja, ada peserta yang nampak kaget, bingung, dan sebagian lain terlihat ingin marah saja. Demikian pula ekspresi para pimpinan sidang. 𝘙𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘶-𝘬𝘢𝘳𝘶𝘢𝘯. 𝘒𝘦𝘵𝘦𝘬𝘶𝘬-𝘵𝘦𝘬𝘶𝘬 𝘱𝘰𝘬𝘰𝘮𝘦𝘯. 𝘛𝘦𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯!  

 

"Ternyata apa yang diucapkan tadi berubah. Saya tidak bisa melanjutkan," ungkap Gus Luthfi Thomafi. "Silakan pakai aturan tersendiri dari 𝘫𝘦𝘯𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯. Jika tidak mufakat, kami semua pulang," timpal pimpinan sidang dari PW. Ansor. Tercekatlah semua calon yang duduk di depan. 


Dalam hitungan menit, pimpinan sidang segera berkemas. Mereka meninggalkan ruang sidang dengan kawalan penuh dari Banser. Tegang. Ruang sidang jadi tak bertuan. Di tengah suasana tersebut, ada salah satu calon yang berdiri dan berteriak: "Kita harus menegakkan PO. 𝘝𝘰𝘵𝘪𝘯𝘨 adalah pilihan setelah tidak adanya mufakat".

 

Bila 𝘷𝘰𝘵𝘪𝘯𝘨 digelar, dan ada penggabungan suara antara Gus Sabiq dan Saiful Khalim, maka, Ainul Mahfudz bisa dikalahkan, dengan 20 selisih suara sah (81 vs 101). Sayangnya, keputusan 𝘷𝘰𝘵𝘪𝘯𝘨 tidak ada dalam isi mufakat yang terjadi antar calon di ruang tertutup itu, dan tidak pula diiyakan oleh pihak PP maupun PW. 


𝘋𝘦𝘢𝘥𝘭𝘰𝘤𝘬, alias 𝘮𝘢𝘶𝘲𝘶𝘧. Konfercab yang sempat tertunda beberapa kali itu tidak menghasilkan keputusan apapun, kecuali diserahkan sepenuhnya kepada Pimpinan Pusat GP. Ansor. Peserta bubar jalan. Sejarah telah diciptakan. Ia jadi ayat dan 𝘪𝘣𝘳𝘢𝘩 (لِنَجْعَلَكَ لِمَنْ خَلْفَكَ اَيَةً) bagi peserta dan kader Ansor se-Jepara, bahkan se-Indonesia. 


Mulai hari ini, pimpinan sidang Konfercab habis tugas dan pimpinan Ansor cabang Jepara sudah sah sebagai demisioner. Tapi, pemegang estafet kepemimpinan GP. Ansor Cabang Kabupaten Jepara masih ghaib diraba. Ranting Ansor se-Jepara dan PAC-nya terpaksa harus mau kehilangan induk untuk sementara. 

  

Andai saya ketua sidang dan penengah tercapainya kesepakatan itu, saya berhak kecewa dan merasa dihina habis serta bermuram durja. Tapi, karena saya bukan pimpinan sidang, maka saya tidak perlu kecewa. Mengalir saja lah. Nasi sudah menjadi bubur, kok. Sejarah sudah terjadi. 


Baca: Trouble Maker Itu Bernama Abu Jahal

  

Saya hanya kecewa, mengapa dalam acara Konfercab GP. Ansor Jepara itu ada "𝘥𝘦𝘢𝘥𝘭𝘰𝘤𝘬 adab", bukan cuma 𝘥𝘦𝘢𝘥𝘭𝘰𝘤𝘬 keputusan? Mengapa kesepakatan diubah setelah di-𝘧𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘩-i bersama walau dijeda waktu "menghilang"? Apa sih yang mereka bicarakan ketika itu, dan apapula yang ingin mereka perjuangkan?


Bila kita semua serius berkhidmah di NU dan menambah 𝘮𝘢𝘩𝘢𝘣𝘣𝘢𝘩 kepada 𝘕𝘢𝘣𝘪𝘺𝘺𝘶𝘯𝘢𝘭 𝘔𝘶𝘴𝘵𝘩𝘢𝘧𝘢, Muhammad 𝘚𝘩𝘢𝘭𝘭𝘢𝘩𝘶 𝘈𝘭𝘢𝘪𝘩𝘪 𝘸𝘢 𝘚𝘢𝘭𝘭𝘢𝘮, maka "𝘛𝘦𝘯𝘨𝘰𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮, 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 - 𝘚𝘪𝘯𝘨𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘣𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘬𝘢𝘵". Sudah. Begitu saja. Saya masih menunggu perayaan setelah Tahun Baru. [badriologi.com]


Keterangan:

Esai ini pertama kali dimuat penulis di akun Facebook pribadi pada Jumat, 25 September 2021 (beberapa jam setelah Konfercab Selesai).


Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB