Trouble Maker Itu Bernama Abu Jahal -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Trouble Maker Itu Bernama Abu Jahal

Badriologi
Selasa, 05 Oktober 2021
Flashdisk Ebook Islami

Buku Terjemah Daqaiqul Akhbar
nama asli abu jahal di zaman jahiliyah
Ilustrasi esai. Foto: istimewa.


Oleh M. Abdullah Badri


PASCA Abu Thalib wafat ―ada satu penulis menduganya dibunuh―, elit (asyrof) Quraisy berkumpul di Darun Nadwah mencari cara terbaik membunuh Rasulullah Saw. Mendengar ada rencana pemufakatan jahat tersebut, setan ―kata penulis Kitab Al-Umdah (hlm. 175)― menjelma jadi lelaki tua (syaikh) yang mengaku ber-KTP dari desa Najed (An-Najdi), untuk mendengar dan memberi usulan terbaik.

 

Ada dua usulan dalam rangka mengakhiri hidup Nabi Saw. Pertama, penjara. Usulan ini mengupayakan agar Nabi bisa dirantai besi sebelum dimasukkan ke ruang pengap tertutup hingga meninggal. Syaikh Najdi itu menolak dengan alasan: bila kabar ini didengar, bukan tidak mungkin akan terjadi penyerangan pengikut Muhammad dari perbagai penjuru. 


Baca: Risalah Konfercabiyah Al-Adabiyah Al-Ansoriyah


Kedua, pengasingan, dengan tujuan agar pengikut Nabi kehilangan komando. Syaikh Najdi menolaknya. Bahkan menganggapnya bodoh. "Apakah kalian tidak tahu betapa indah ucapan Muhammad, manisnya dia bertutur dan dahsyatnya memikat hati para tokoh?" Tanya Syaikh Najdi. 

   

Sifat-sifat luhur Nabi itu, kata Syaikh Najdi, bisa jadi akan memikat pengikut baru yang kelak menyerang elit Qurasy secara mendadak, dari negeri pengasingan. Bila hal ini terjadi, "kalian akan dikalahkan pasukan barunya itu," lanjut Syaikh Najdi. 


"Aku punya ide yang bisa kalian terima pasti," Abu Jahal memecah kebuntuan forum. 


Dia mengusulkan agar setiap suku yang menjadi sekutu elit Quraisy menyiapkan seorang laki-laki muda petarung yang gagah dan masing-masing dibekali pedang untuk membunuh Muhammad, dalam sekali serangan (pembantaian). Darahnya akan menetes di setiap pedang para pemuda itu.


Baca: "Deadlock Adab" dalam Konfercab Ansor Jepara 2021

 

Dengan begitu, kata Abu Jahal, suku Abdi Manaf (mawali Nabi Muhammad) tidak bisa memilih untuk menuntut balas (qishash) secara perorangan. Semua sekutu bisa mengaku sebagai pembunuhnya. Darah di pedang adalah buktinya. Bani Abdi Manaf tidak akan mampu melawan banyak suku. 


"Ini ide brilian," sahut Syaikh Najdi, sepakat.


Berangkatlah utusan mereka untuk mengepung Rasulullah Saw hingga masyhur cerita Sayyidina Ali menggantikan tempat tidur beliau -menuju hijrah ke Yastrib-, laiknya sahabat Nabi Isa as (hawari) yang juga menggantikan beliau saat dirafa' oleh Allah Swt. 

 

Abu Jahal (nama KTP: Amr bin Hisyam bin Mughirah) selalu menjadi pusat solusi para penentang dakwah Nabi Muhammad Saw. Di kalangan Qurays kafir, ia dijuluki Abu Hakam (Bapak Kebijaksanaan). Oleh Rasulullah Saw, ia digelari Abu Jahal (cah goblok kemaki). 


Bagi umat Islam, Abu Jahal adalah trouble maker jahil kuadrat. Kesana-kemari melontarkan gunjingan pecah belah dan fitnah. Ia tahu, Nabi Muhammad Saw memiliki bukti-bukti sebagai utusan Allah, tapi, karena pengaruh dan posisinya takut digeser, ia menolak menerima kenyataan dan kebenaran, meskipun dari yuniornya. Alih-alih beriman. [badriologi.com]


Keterangan:

Esai ini pertama kali dimuat penulis di akun Facebook pribadi pada 3 Oktober 2021 (8 hari setelah Konfercab Ansor Jepara digelar).


Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB