Konfercab Ansor Jepara dan Blumbang Amoh NU -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Konfercab Ansor Jepara dan Blumbang Amoh NU

M Abdullah Badri
Minggu, 26 September 2021
Flashdisk Ebook Islami

Buku Terjemah Daqaiqul Akhbar
konfercab ansor jepara 2021
Suasana Konfercab GP. Ansor Kabupaten Jepara, di gedung MWC NU Tahunan Jepara, Jumat (25 September 2021) malam. Foto: badriologi.com.


Oleh M. Abdullah Badri


SAYA mendengar, Konfercab Ansor di Jawa Tengah bisa digelar secara resmi bila ada calon yang dukungannya lebih dominan dibanding lainnya. Sebisa mungkin, dengan cara apapun, Konfercab haruslah aklamasi. 


Alasannya, pemilihan Ansor tidak boleh menyerupai pemilihan Pilkada atau partai. Konstelasi antar bakal calon harus selesai sebelum Konfercab digelar. Begitu lah kesepakatan tak tertulis yang sudah menjadi kultur politik di Ansor.


Baca: "Deadlock Adab" Konfercab Ansor Jepara


Apakah jelang Konfercab Jepara saat ini sudah begitu? Saya pikir, iya. Menurut kabar yang saya terima dari banyak sumber, calon tunggal yang bakal menang sudah ada, dan secara faktual, saat tulisan ini dibuat, dia sudah di atas angin. Ia mendapatkan banyak rekomendasi dari beberapa PAC dan PR Ansor di Jepara, melebihi target minimal menjadi calon. "Pulung" nya juga sudah dia sangga, beberapa hari lalu. Game sudah berakhir. 

    

Bakal calon yang mengundurkan diri, tidak lolos syarat umur atau tidak mendapatkan minimal tiga rekomendasi dari PAC, harus menyiapkan diri berlayar di perahu bersama nahkoda baru yang sudah pasti hampir terpilih dalam Konfercab GP. Ansor Jepara, pada Jum'at, 25 September 2021.


NU laksana bahtera NUh. Jenis makhluk bisa diterima untuk menjadi penumpang ke atas kapal besar itu, agar terus meregenerasi. Makanya, NU tidak bisa hanya disebut sebagai jamiyyah profesional saja. Dalam bahtera NU, -termasuk Ansor- ada wong ndeso, wong kota, abangan, priyayi, elite, dan bahkan sekedar menumpang agar sampai tujuan untuk dirinya sendiri. 


Bahasa Jawanya, NU itu laksana "blumbang amoh". Siapapun dia, bisa diterima, walau cara beragamanya sangat minimalis, klenikers, syariah minded, politik oportunis ataupun fajir (berakhlak buruk). Semuanya adalah "bayangan Muhammad" di dunia ini, dengan plus-minus masing-masing. Di NU, mereka ngaji dan ngabdi untuk memperbaiki iman sesuai ajaran Aswaja dan tetap NKRI. 


Baca: Siapa yang Berpenyakit Ain?


Ada dua hal yang menyatukan nahdliyyin di NU: mahabbah kepada ulama' sebagai waratsatul anbiya' dan merasa satu nasib sebagai "rondone Londo". Itulah nasionalisme primordial paling dominan yang bisa dilihat dalam kultur mayor warga NU. Nahdliyyin yang tidak menyatu di NU, cari saja, pasti ada yang membuat mereka kanginan. Entah hilang mahabbahnya atau terbujuk angkara. 


Oleh karena itulah, agar bahtera NU tetap berjalan, "kita mesti telanjang dan benar-benar bersih, suci lahir dan di dalam batin", sebagaimana pesan Ebiet G. Ade (Abdul Ghafur) dalam lirik syair berjudul "Untuk Kita Renungkan". 


Bila semua calon ketua sudah benar-benar bersih lahir batin, pasca Konfercab tidak akan ada lagi yang diributkan, apalagi inthing-inthingan dan nyek-nyekan. Mereka harus siap kembali naik ke atas bahtera besar bernama NU, dengan nahkoda baru, yang harus diterima dan dibantu oleh semua pihak. Ini hanya episode saja. Harus ada yang memimpin dan dipimpin. Begitu saja. 


Baca: Calon Ketua Ansor Ideal di Jepara Menurut Saya


Saya juga berharap Konfercab PCNU Jepara beberapa pekan lagi tidak seperti dalam konstelasi politik praktis kekuasaan. NU bukan ajang berkuasa ndoro, tapi mengabdi kepada Kanjeng Nabi Muhammad dan terus mempertahankan jejegnya syahadat kepada Allah Swt.  


"Singkirkan debu yang masih melekat", bila kita semua serius  berkhidmah kepada Nabiyyunal Musthafa, Muhammad Shallahu Alaihi wa Sallam, melalui NU. Begitu saja. [badriologi.com]


Keterangan:

Esai ini pertama kali dimuat penulis di akun Facebook pribadinya pada Rabu, 23 September 2021 (Dua hari sebelum Konfercab Ansor Jepara digelar di Gedung MWC NU Tahunan)


Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB