Tafsir Aktual Al-Maidah 51 Menurut Syaikh Imran Hosein -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Tafsir Aktual Al-Maidah 51 Menurut Syaikh Imran Hosein

Badriologi
Rabu, 08 September 2021
Flashdisk Ebook Islami

Buku Terjemah Daqaiqul Akhbar
qiroat sab'ah surat al maidah ayat 51
Varian bacaan Qira'at Sab'ah Al-Ma'idah: 51. Foto: badriologi.com.


Oleh M. Abdullah Badri


SECARA tidak langsung, Ahok pernah menjadi korban tafsir ideologis surat Al-Ma'idah ayat 51. Atas nama agama Islam, kampanye anti Ahok tahun 2017 membuat suasana politik DKI Jakarta dicekam ketakutan melebihi ketakutan virus dua tahun belakangan ini. 


Bila mereka membaca pemikiran Kiai Imran Hosein, barangkali para anti Ahok akan sadar makna mata satu ala Dajjal yang menurut Kiai Imran adalah kiasan atas bodohnya penglihatan mata lahiriyah manusia tanpa pelibatan mata batiniyah (spiritual). 


Mata batin yang ia adalah majma'al bahrain (bertemunya dua samudra pengetahuan lahir dan batin), tempat Nabi Khidzir waliyullah ditemui Nabi Musa as. (untuk berguru), sangat sulit dijumpai dalam labirin pemikiran manusia kerja sekarang, yang untuk belajar agamanya saja telat. Baca: Syaikh Imran Hosein dan Akhir Zaman di Indonesia


Al-Qur'an memperingatkan begini,

   

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ


Artinya:

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai auliya'. Mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka auliya', maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka". (QS. Al-Maidah: 51).

 

Kiai Imran menyatakan, orang beriman dilarang menjadi sekutu Yahudi dan Nasrani, tapi tanpa pukul rata ala Pilkada Jakarta itu. Kiai Imran Hosein mengingatkan kita, larangan Al-Qur'an di atas terbatas pada golongan Yahudi dan Nasrani yang memiliki sifat بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ (Mereka satu sama lain saling melindungi). 


Sejak kapan mereka saling melindungi? Apakah sejak dulu? Untuk menjawab ini, penafsir aktual membutuhkan majma'al bahrain yang sangat dalam. 


Sejarah membuktikan, Yahudi itu adalah anak cucu para keponakan Nabi Yusuf, yang di zaman Nabi Isa as. tertuduh sebagai pihak yang hendak membunuh Nabi Isa bin Maryam. Mereka juga menuduh Siti Maryam berbuat zina, dan dengan begitu, tuduhan sebagai anak zina kepada Nabi Isa juga dilemparkan tanpa ampun.

 

Sementara itu, umat Nasrani secara teologis sangat mencintai Nabi Isa dan bahkan mengangkatnya sebagai anak Tuhan atau bahkan Tuhan. Jadi, Yahudi tidak akan bertemu dengan Nasrani sejak dari keyakinan teologisnya, selamanya. Justru umat Islam lah yang sedikit banyak memiliki titik temu dan kesamaan teologis dengan umat Nasrani, karena mereka meyakini Nabi Isa as. sebagai Nabi.  


Karena itulah, Nasrani disebut Al-Qur'an sebagai golongan yang memiliki mawaddah (kasih) kepada orang-orang beriman. Sementara Yahudi tetap disebut sebagai pihak dengan karakter adawah (permusuhan) yang hampir permanen kepada umat Islam, sebagaimana tertulis dalam Surat Al-Mai'dah ayat ke-82. 


Baca: 5 Makna Kata "Yasin" dalam Surat Yasin - Menurut Ahli Tafsir


Syaikh Imran menyatakan, Al-Qur'an diturunkan bukan untuk melengkapi cerita dongeng sebelum tidur. Setiap hurufnya mengandung mukjizat serta nubuwat tak terbatas untuk tiap peradaban dan zaman. Ia kemudian memahami, larangan Al-Qur'an untuk menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai auliya' ada di barisan kalimat بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ yang menurutnya baru terjadi setelah ditemukannya jasad Fir'aun di Lembah Tuwa (1896), Munculnya Gerakan Zinois (1897) hingga akhirnya melahirkan Deklarasi Balfour (2 November 1917). 


Baca perlahan ayat Al-Qur'an tentang tujuan Allah Swt. me-mumi-kan jasad Fir'aun, 


فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ


Artinya:

"Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang di belakangmu, dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami". (QS. Yunus: 92).

 

Menurut Kiai Imran, ayat di atas baru terbukti secara aktual tahun 1896 di Mesir. Artinya, orang-orang yang lahir setelah tahun itulah yang jadi objek utama ayat tersebut (لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً). Tapi, "kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami". Secara implisit, hanya mereka yang diberikan majma'al bahrain Khidzir lah yang "tidak lengah". 


Dari ayat itu, Syaikh Imran menyatakan, penemuan Fir'an tahun 1896 adalah alarm bahaya umat manusia. Akan ada Fir'an baru yang lahir untuk berbuat fasad (kerusakan) di bumi manusia ini. Kapan itu? Setahun setelahnya, yakni sejak Zionis berdiri tahun 1897, dimana bukan hanya Yahudi yang ada di lingkarannya, tapi juga Nasrani Sekuler Eropa (bukan Nasrani Agamis Timur), yang akhirnya bukan saja menghasilkan Deklarasi Balfour Britania, melainkan berhasil mendirikan organisasi tingkat dunia semacam PBB, IMF, NATO, dll, pasca perang dunia II berakhir. 


Sejak saat itu, dunia dipimpin oleh manusia tanpa batas negara. Dunia menjadi desa (global village), dengan lurah-lurah yang oleh Kiai Imran Hosein disebut sebagai aktualisasi Ya'juj-Ma'juj modern (Yudeo-Nasrani Barat Eropa) yang siap menggantikan posisi "dajajil Fir'aun" seperti terjadi di zaman Nabi Musa as. Larangan menjadikan auliya' kepada mereka inilah yang diisyaratkan Al-Qur'an dalam barisan kalimat wahyu بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ pada Surat Al-Ma'idah: 51.


Baca: Adakah Orang Kafir Shalih yang Masuk Surga?

 

Antar kelompok Yahudi-Nasrani ini makin hilang sekat teologisnya, dan saling membantu satu sama lain setelah tragedi Holocaust (1941) oleh Nazi Jerman, dimana umat Yahudi mendapatkan belas kasih Eropa (dan dianggap sebagai saudara permanen) sehingga Israel berdiri 1948 tanpa memiliki riwayat dijajah oleh bangsa lain, laiknya Indonesia. بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ ada dalam peristiwa global ini. 


Kiai Imran melanjutkan, siapa saja yang mendukung mereka sebagai auliya', maka, dia masuk dalam teks ayat selanjutnya, yakni: وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ (Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka auliya', maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka). Dia mengkritik Erdogan, Presiden Turki, yang dianggap tidak memahami ayat ini secara aktual dengan perannya sebagai pimpinan permanen NATO. Biar pun Erdogan yang memimpin wilayah bekas Turki Ottoman, tapi sekarang dia masuk dalam sekutu penghancur sistem leluhur bangsanya. Dia termasuk minhum. فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ


Bagi Kiai Imran, Al-Qur'an sudah menjelaskan sejak awal bahwa untuk bermusyawarah dan berbagi rahasia kebijakan, harusnya bukan kepada mereka yang بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ, tapi kepada أُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ (pemilik wewenang di antara kamu), bukan أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ (pemilik wewenang di antara mereka). Simak ayat ini: 


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا


Artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan pemilik kebijakan di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya". (QS. An-Nisa': 59). 


Kata مِنْكُمْ artinya terbatas pada, terbatas dengan, dan terbatas untuk. Tidak semuanya dimusyawarahkan kepada mereka yang بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ dari golongan الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى. Justru larangan. Karena itulah, secara terbalik, Kiai Imron mengartikan Al-Ma'idah ayat 51 itu dengan terjemahan aktual: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan organisasi global sebagai pihak yang mengurus segala kepentinganmu karena kamu diperintah untuk menyerahkan urusanmu antar sesamamu saja, bukan kepada mereka


Apakah Ahok di Indonesia bagian dari بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ? Mereka yang memiliki majma'al bahrain tentu saja tidak menjawab iya. Bagi saya, Ahok masih termasuk ulil amri minkum dalam pengertian satu bangsa, Indonesia. Toh dia juga masih bagian dari Nasrani Timur Ortodok (menurut Kiai Hosein sekarang dipimpin Rusia) yang selama ini dikenal sebagai lawan bebuyutan Nasrani Barat Sekuler, dimana gereja mereka kini sudah banyak yang diubah jadi McD, museum dan bahkan gedung bioskop karena agama bukan unsur utama yang dijadikan pedoman oleh Western Society. Indonesia masih sangat religius. Apapun itu agamanya.

 

Timbul pertanyaan, mengapa teks wahyu بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ dalam Al-Ma'idah ayat 51 itu dijadikan semacam qayyid (pembatas) atas sifat khusus untuk teks sebelumnya yang berbunyi لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَ. Kalau secara Nahwu ia ditarkib sebagai na'at atau sifat, harusnya kata بَعْضُهُمْ dibaca بَعْضَهُمْ (dengan fathah, bukan dhommah). Saya mencoba mencari jenis bacaan qiroat Sab'ah, barangkali ada yang dibaca fathah. Ternyata semua qari' qiroah tidak ada yang membacanya dengan harakat fathah


Karena tidak menemukan jawaban, saya hampiri Kiai Imran Hosein via email. Tapi sejak 21 Agutus 2021 lalu, belum ada balasan. Bila ada yang mampu menjelaskan, silakan japri!. [badriologi.com]


Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB