Akibat Buruk Sifat Para Pendengki -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Akibat Buruk Sifat Para Pendengki

Badriologi
Rabu, 06 Oktober 2021
Flashdisk Ebook Islami

Buku Terjemah Daqaiqul Akhbar
nadham burdah tentang buruknya sifat hasud
Nadham Burdah tentang dampak buruk orang yang hasud. Foto: badriologi.com.


Oleh M. Abdullah Badri


DALAM Kitab Burdatul Madih karya Imam Bushiri, ada sebuah nadham yang indah direnungkan bila kita semua mau menjauhi sikap hasud, yakni: تمنى زوال النعمة من المنعم عليه = mengharap lenyapnya nikmat dari pihak penerima kenikmatan. Berikut ini syiirnya:


قَدْ تُنْكِرُ الْعَيْنُ ضَوْءَ الشَّمْسِ مِنْ رَمَدٍ ⎈ وَيُنْكِرُ الْفَمُ طَعْمَ الْمَاءِ مِنْ سَقَمِ


"Terkadang, mata tak mau menatap terang sinar Matahari karena blelekan. Mulut tak merasakan tawarnya air sebab sakit". 


Nadham itu ditulis Imam Bushiri dalam rangka menjelaskan mukjizat Al-Qur'an di zaman Rasulullah Saw, yang bukti kebenarannya tidak bisa dibantah, tapi tetap ada yang mengingkarinya, karena hasud. 


Baca: Trouble Maker Itu Bernama Abu Jahal


Sebetulnnya, mereka itu memiliki kecerdasan dan pemahaman yang nyata (عَيْنُ الْحَاذِقِ الْفَهِم), tapi, karena berhasud ria, mereka macak goblok atau njarak memilih menggoblokkan diri sendiri (تَجَاهُلاً - bertajahul). Demikian Al-Bushiri melukiskan trend psikologis the hasuder's, pada syiir sebelumnya. 


Dalam ungkapan lain, the hasuder's itu ibarat pemilik mata utuh. Sayangnya, karena blelekan, mereka blereng melihat realitas. Mereka menerima adanya realitas kebenaran, tapi, karena sakit hasud, mereka tidak mau mengakui.  


Namanya orang sakit, mulutnya ya sakit. Air tawar pun terasa pahit diminum. Apakah yang pahit airnya? Tentu saja tidak, bukan. Tapi, begitulah trend psikologis the hasuder's yang ada ―dimanapun, kapanpun, sampai kini sekalipun. Mereka lebih suka macak goblok dan menyadarinya. 


Baca: Risalah Konfercabiyah Al-Adabiyah Al-Ansoriyah


"Telinga kami sudah tersumbat," begitu salah satu ciri ucapan hasuder's dalam Al-Qur'an (QS. Fushshilat: 5). Abu Jahal bisa dijadikan contoh. Dia mengetahui kebenaran ajaran Al-Qur'an yang dibawa Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Tapi, karena hasud, ia tak mengakuinya. 


"Kita dan Bani Abdi Manaf (leluhur Nabi) itu sebetulnya setara (pengaruhnya). Jika mereka berkurban, kita ikut kurban. Mereka sedekah, kita juga sedekah. Mereka bebaskan budak, kita juga melakukan hal sama. Tapi, mengapa wahyu langit malah jatuh ke (keturunan) mereka? Apa-apaan ini? Sumpah demi Tuhan, kita tidak akan beriman selamanya," kata Abu Jahal, suatu ketika.


Bagi orang hasud, seterang apapun kebenaran ―dan kenikmatan― yang diterima oleh orang lain tidak akan bisa dia terima. Itu adalah kepahitan. Kebenaran bisa dibenarkan bila memihak versi kenikmatan yang berpihak kepadanya. Atau, dia baru melek setelah hilang the blelek. Wallahu a'lam. [badriologi.com]


Keterangan:

Esai ini pertama kali dimuat penulis di akun Facebook pribadi, pada 4 Oktober 2021 (9 hari setelah Konfercab Ansor Jepara digelar). Judul awal: "Melek Blelek Kebenaran".  


Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB