Memilih Sunnah Daripada "Bid'ah" Tradisi Islam Nusantara
Cari Judul Esai

Advertisement

Memilih Sunnah Daripada "Bid'ah" Tradisi Islam Nusantara

M Abdullah Badri
Kamis, 30 Mei 2019

memilih sunnah atau bid'ah saja adalah pertanyaan dan pernyataan yang salah
Memilih sunnah dengan cara meninggalkan amaliyah yang dianggap bid'ah adalah sebentuk kesombongan sebagai hamba Allah seolah dia, dengan amalnya, akan masuk surga tanpa hisab. Padahal, mempertentangan amalan hanya pada istilah sunnah dan bid'ah adalah bagian dari bid'ah itu sendiri.

Oleh M Abdullah Badri

DALAM diskusi bertema kontroversi Islam Nusantara yang digelar oleh Lembaga Kajian Pemikiran dan Advokasi Marka Bangsa (25/05/2019), muncul pertanyaan dari salah satu peserta yang menyitir dalil menyihir dari mereka yang menolak Islam Nusantara.

Katanya, mengapa kita harus mengamalkan tradisi bid'ah ala Islam Nusantara semacam tahlilan, haul, maulid dan lainnya. Sementara amalan sunnah lainnya juga banyak yang belum kita lakukan?

Jawaban: 
Pertanyaan itu, sejak dari niatan bertanya sudah salah menurut saya. Mengapa, menghadapkan perkara bid'ah dengan perkara sunnah itu sudah tidak pas. Mengapa? Karena sunnah, ketika dilawankan dengan hanya satu istilah saja, misalnya bid'ah, maka, pengertian itu akan mempersempit ruang hukum fiqih lainnya, yakni wajib, makruh, mubah dan haram.

Menyoal tradisi Islam Nusantara hanya dengan dua kata, sunnah dan bid'ah, jelas sebuah argumen yang salah berpikir dalam fiqih. Persepktifnya hanya salah dan benar saja akhirnya. Seolah, kalau tidak ada di zaman Nabi, langsung disikat sebagai bid'ah dhalalah (sesat). Mengapa tidak bertanya dengan misalnya, apakah tahlilan itu makruh dilakukan atau justru wajib?

Jawabannya, jika cara bertanya seperti itu, mereka tidak akan bisa menjawab. Pasalnya, banyak kok hal-hal yang tidak pernah dilakukan pada zaman Nabi Muhammad Saw. hidup, justru diamini oleh mereka yang anti ahlisunnah waljama'ah karena merasa mendapatkan pembenaran dalil dari Nabi Muhammad Saw.

Baca: Menjawab Islam Nusantara dan Tahlilan yang Dituduh Warisan Hindu

Apa contohnya? Banyak. Salah satunya adalah gagasan Sayyidina Abu Bakar ra. dalam mengatasi umat Islam yang tidak mau membayar zakat pasca Rasulullah Saw. wafat karena zakat, pada masa itu, dianggap bagian dari pajak yang ditarik oleh Nabi Muhammad Saw. Sehingga, anggapan mereka yang tidak mau mengeluarkan zakat, ketika Nabi Saw. wafat, kewajiban zakat sudah gugur.

Sayyidina Abu Bakar ra. pun membuat kebijakan yang belum pernah dilakukan oleh Nabi Saw. sebelumnya, untuk meluruskan hukum wajibnya mengeluarkan zakat, yakni dengan membunuh mereka yang tidak mau membayar zakat dengan alasan dalil Al-Qur'an, sebagaimana ayat di bawah ini,

وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ 

Artinya:
"Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat". (QS. Fusshilat: 6-7).

Orang yang tidak mau mengeluarkan zakat, dalam ayat di atas, disebut Allah Swt. sebagai musyrikin (yang menyekutukan Allah), sehingga boleh dibunuh. Artinya, Sayyidina Abu Bakar ra. tidak melakukan perbuatan yang dianggap tidak ada asalnya dari Nabi Muhammad Saw. meskipun belum pernah dilakukan di zaman Nabi Muhammad Saw.

Inilah yang dimaksud dalam hadits Rasulullah Saw. tentang larangan bid'ah, yang ada dalam kalimat مَا لَيْسَ مِنْهُ (yang tidak ada "contoh" asalnya), di bawah ini,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Artinya:
"Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada "contoh" asalnya, maka perkara tersebut tertolak". (HR. Bukhari No. 2697 dan Muslim No. 1718).

Artinya, bila kita melakukan perbuatan yang ada contoh dan perintah dasarnya dari Nabi Muhammad Saw. lalu kita mengemasnya dengan tradisi atau kultur yang belum pernah dilakukan pada zaman Nabi Muhammad Saw. sebagaimana dilakukan oleh Sayyidina Abu Bakar ra. di atas, maka, perbuatan itu bukan tergolong bid'ah yang tertolak.

Lain bila misalnya kita melakukan perbuatan dalam urusan agama yang tidak ada asal dan dasarnya sama sekali dari Nabi Muhammad Saw. Misalnya, langsung menghukumi munafiq kepada mereka yang berbeda pilihan politik (dengan dalih apapun) sampai menghukumi haram menshalati jenazahnya.

Jelas sekali hal itu bagain dari perbuatan yang sangat bid'ah mugholladhoh karena tidak pernah terjadi di zaman Nabi Muhammad Saw. Mengapa? Di zaman Nabi Saw. masih hidup, beliau tidak pernah menyebut terang-terangan siapa saja dari orang-orang di sekeliling Nabi yang munafiq.

Baca: 10 Adab Masuk Masjid dan Doanya, Sesuai Sunnah Rasulullah

Nabi sangat merahasikannya meskipun beliau sudah diberitahu nama-nama oknumnya oleh Allah Swt. lewat malaikat Jibril as. Dengan demikian, menfatwa munafiq bagi mereka yang berbeda pilihan politik jelas merupakan bid'ah karena tidak ada asalnya dari Nabi.

I'tikaf Run misalnya, yang pada musim puasa 2019 diinisiasi bid'ahnya oleh Sandiaga Uno, jelas tidak masuk dalam kategori bid'ah sayyi'ah karena sekali lagi, hal itu ada dalil asal dari Nabi Muhammad Saw., seperti firman Allah Swt. di bawah ini,

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Artinya:
"Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud". (Qs. Al-Baqarah: 125).

Salah Niat Memilih Sunnah
Orang yang mudah menuduh bid'ah lalu beralasan bahwa masih banyak kesunnahan yang belum dilakukan adalah bagian dari kesombongan atas capaian amalnya. Seolah, dengan terus melakukan sunnah, mereka langsung selamat dari neraka dan bleng masuk surga tanpa hisab kelak di hari kiamat.

Dengan menumpuk pahala, pilah-pilih amal, tanpa menata niat dengan baik, tidak ada jaminan dia masuk surga. Bukankah surga adalah anugerah dan rahmat Allah Swt. kepada hambanya. Ada bahkan riwayat yang menyebutkan bahwa diterimanya amal Sayyidina Umar ra. itu bukan karena jihadnya dan ibadahnya yang rajin, tapi karena kasih sayangnya kepada burung emprit. Baca kisahnya: Burung Emprit Sayyidina Umar.

Memilih mengamalkan kesunnahan, sementara di sisi lain dia masih menuduh saudara seiman lainnya sebagai pengamal bid'ah, apakah hal itu menunjukkan kasih sayang? Padahal sama-sama mengucapkan syahadat lahir batin.

Andai saja mereka tidak mempertentangkan sunnah dan bid'ah, tapi melaju dengan pertanyaan yang lebih cerdas lagi, misalnya, apakah tradisi Islam Nusantara semacam maulid adalah sunnah atau mubah, maka, mereka tidak akan terjebak pada ajakan saling bermusuhan.

Inilah yang seharusnya dihindari. Jangan memasukkan perkara furu'iyah ke dalam kubangan menuduh aqidah yang salah. Saling laknat bakal terjadi nantinya. Islam Nusantara bara'ah dzimmah dari cara berpikir seperti itu. Riskan menumbuhkan bibit radikalisme. [badriologi.com]

Keterangan:
Esai ini adalah catatan saya dalam Ngaji Posonan Islam Nusantara bersama Lembaga Kajian Pemikiran dan Advokasi Marka Bangsa di Balaidesa Gemulung, Pecangaan, Jepara, Ahad (25 Mei 2019) malam. Catatan lain, silakan baca dalam rubrik Islam Nusantara, yang saya tulis berseri.