Nasib Naskah Beraksara Pegon Jawi -->
Cari Judul Esai

Advertisement

Nasib Naskah Beraksara Pegon Jawi

Badriologi
Rabu, 01 Desember 2021
Flashdisk Ebook Islami

Buku Terjemah Daqaiqul Akhbar

workshop sejarah walisongo di walisongo center semarang 2021
Dalam Workshop Desain Ruang Walisongo Center, Semarang, Selasa (30 November 2021). Foto: koleksi badriologi.com.

Oleh M. Abdullah Badri 


DARI kata pego (yang artinya nyeleneh), Pegon adalah sebutan jenis aksara ―dari puluhan aksara Nusantara― yang pernah populer dijadikan media tulis. Terutama oleh para ulama' di abad 19. Sistem tulisnya (imla') menggunakan abjad hija'iyah namun cara bacanya (qira'ah) menggunakan bunyi logat lokal (Jawa, Madura, Sunda, Melayu dll). 


Bila hija’iyah terdiri atas 28 huruf, maka, setidaknya, ada 5-6 tambahan huruf dalam Pegon. Antara lain ݤــ – ڤـ – ݐـــــ – ڠـ – چـ, yang mewakili bunyi fonetik go-po-nyo-ngo-co, yang tidak ditemukan dalam bahasa Arab. Kini, huruf wawu (و) juga ditambah satu titik di atasnya (ۏ) untuk mewakili bunyi "v", bukan “f”. Lain dari itu, Pegon tetap menggunakan huruf hijai’yah yang fonetiknya diadaptasi. Ada dua huruf hija’iyah yang mewakili dho dan tho (Jawa), yakni  د dan ط, tanpa diberi kreasi titik dan tetap bisa berbunyi “o”. Kreativitas inilah yang dianggap pego.


Baca: Pusat Kerajaan Demak di Prawoto, Bagaimana Demak Bintoro?

 

Pegon makin pego ketika ia sebagai aksara tidak memiliki standar baku antar pemakainya. Bila disambung, antar pemakainya bisa menulis utawi dengan اوتاوي atau اتوي. Contoh lain adalah kata iku, yang bila dipegokan, tulisannya bisa menjadi ايكو atau إكو. Semuanya bisa benar. Tidak ada aturan nahwu atau sharaf pada Pegon. Prinsipnya, yang penting paham. Adagium Al-lughah al-fahm (bahasa adalah soal pemahaman saja) berlaku dalam cara tulis aksara Pegon yang tanpa standar baku itu.

 

Ada yang menyebut, aksara Pegon sudah ada sejak Kerajaan Samudra Pasai. Meski begitu, ada pula yang menyebut Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, atau Syaikh Nawawi Al-Bantani sebagai kreatornya. Siapapun dia, yang pasti, Pegon pernah menjadi alternatif aksara tulis yang populer hingga digunakan sebagai aksara administratif resmi di zaman Kerajaan Mataram Islam. Artinya, Pegon pernah menjadi aksara yang setara dengan aksara Parsi maupun Urdu ―yang merupakan hasil adaptasi huruf hija’iyah Arab pula. 


Pegon mulai tergeser oleh aksara Latin Romawi di tahun 1950an, tepatnya setelah ada Kongres Bahasa di Singapura yang meneguhkan makin kuatnya penggunaan aksara Romawi di wilayah Nusantara. Pelan namun pasti, media koran dan majalah mulai meninggalkan aksara Pegon. 


Sebelum tahun 50an, penulis menemukan banyak hasil publikasi yang beraksara Pegon. Misalnya Majalah Berita Nahdlatoel Oelama terbitan HBNO tahun 1938, Risalah fi Ta’addudil Jumu’ah KH. Hasyim Asy’ari dan Kitab Fiqih Jilid Telu terbitan Taman Poestaka Muhammadiyah Yogyakarta tahun 1926. Hampir semuanya beraksara Pegon ―kecuali majalah NU yang sudah bercampur aksara Latin Romawi ejaan lama. 

  

Pegon makin terisolir sebagai aksara yang hanya eksklusif digunakan terbatas di kalangan pesantren ―untuk memaknai kitab kuning dengan sistem tanda utawi iki iku (makna pesantren). Syaikh Cholil Bangkalan dikenal luas sebagai pencipta sistem nahwiyah makna pesantren ini, yang hingga kini masih dilestarikan. Dewasa ini, kitab-kitab gundul dengan makna pesantren mudah didapatkan di marketplace. 


Selain memaknai kitab, aksara Pegon juga digunakan kalangan pesantren untuk menulis naskah buku ajar standar yang beredar terbatas. Biasanya untuk kalangan sendiri. Sayangnya, rezim aksara Latin makin menyempitkan ruang aksara Pegon. Naskah Pegon terbaru jarang ditulis oleh penulis baru. Sebaliknya, proses transliterasi naskah Pegon ke aksara Latin berbahasa Indonesia justru semakin ramai. Syarah Kitab Al-Hikam KH. Sholeh Darat misalnya, sudah mengalami transliterasi. Penulis sendiri melakukan transliterasi Kitab Pegon berjudul Tarikh Auliya’ karya KH. Bisri Musthafa ke aksara Latin berbahasa Indonesia (terbit di website pribadi), agar mudah dimengerti oleh kalangan buta aksara Pegon. 


Selain transliterasi, pelestarian aksara Pegon juga dilakukan dengan cara memburu naskah. Di Banyuwangi sudah ada komunitas yang menamakan dirinya Komunitas Pegon. Misinya mengumpulkan karya-karya ulama’ salaf, utamanya yang beraksara Pegon. Mereka adalah pemburu dan perawat naskah kuno yang konsisten dan telaten, hingga Dreamsea (Digital Repository on Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia) pun memberikan apresiasi. Walau tidak seluruhnya Pegon, ada enam naskah hasil buruan Komunitas Pegon yang sudah di-digitalisasi Dreasmsea bersama 4.247 naskah lainnya se-Asia Tenggara.  


Melestarikan Pegon

Pegon adalah wasilah hasil akulturasi produk aksara dengan tujuan utama transformasi ilmu pengetahuan. Di zaman Walisongo, aksara populernya Honocoroko. Saat itu, Pegon belum populer digunakan. Bila kini makin banyak generasi yang buta aksara Pegon, itu soal pergeseran peradaban saja, laiknya pergeseren minat generasi sekarang yang lebih suka bermain game android daripada balapan gedebog. Mengarang kitab berbahasa Pegon pun sekarang sudah tidak banyak peminat. Pegon makin menjadi pusaka. 


Meski begitu, naskah-naskah Pegon tidak harus dimakamkan. Pegon memiliki nilai historis yang bisa digali. Dalam Masterpiece Islam Nusantara (2016: 449), Zainul Milal Bizawie mencatat tentang keresaan van den Berg di tahun 1887 atas masifnya gerakan aksara Pegon dari kalangan pesantren. Dia resah karena ulama’ Hadrami yang bekerja untuknya merasa kehilangan pengaruh gara-gara para kiai di pesantren menduduki peran pemimpin dalam pengajaran hukum Islam, yang naskah ajarnya dicetak sendiri, dengan kertas sendiri, dan aksaranya Pegon Jawa semua, dimana para ulama’ Hadrami sulit memahaminya, apalagi pihak Belanda. Saat itu, Belanda menerapkan kebijakan kepada semua penghulu agar aksara Latin digunakan sebagai media komunikasi, seperti dilakukan oleh Kiai Hasan Mustafa. Kalangan pesantren melawan kebijakan tersebut dengan aksara. 


Meski Belanda melarang proses penerjemahan Al-Qur’an, KH. Sholeh Darat juga berhasil lolos menerjemahkan Al-Qur’an dengan aksara Pegon Jawa untuk RA. Kartini. Dengan aksara Pegon lah karya Kiai Sholeh Darat tidak dicurigai Belanda sebagai hasil terjemah.

 

Dari dua peristiwa di atas, Pegon bisa dianggap sebagai khazanah ulama’ salaf yang mengandung nilai heroik kesejarahan sekaligus transformasi intelektual. Utamanya tentang pengetahuan agama Islam. Baca: Syaikh Rodhi, Misionaris Wahabi Abad 19 yang Minggat Pasca Kalah Debat dengan Kiai Menara


Dengan begitu, harapannya, nasib Pegon tidak hanya menjadi jimat keramat atau komoditas yang bernilai jual mahal. Nilai-nilai kesejarahan pun bisa ditransformasikan kepada generasi sekarang, yang banyak buta aksara Pegon. [badriologi.com]


Keterangan:

Esai yang awalnya berjudul "Nasib Nasab Naskah Pegon" ini disampaikan penulis dalam Workshop Desain Ruang Walisongo Center, yang diselenggarakan UIN Walisongo Semarang pada Selasa, 30 November 2021, bertempat di Ruang Sidang Senat Akademik, Lantai 4 Gedung Rektorat UIN Walisongo Semarang.


Flashdisk Ribuan Kitab PDF

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB